Sabtu, 18 Agustus 2018

Diduga Kuat Pekerjaan Jamban SDN Cikalong 1 Diborongkan | PIMPINAN DAN SEGENAP JAJARAN IKUT BERDUKACITA ATAS WAFATNYA AMRIL MUNIR KETUA UMUM ASRIL CENTER

REGISTER CARD
BERITA TERPOPULER
BU | 11 Nov 2015 | Liputan Khusus
01
87
7503
Polwan Seksi Menipu Mapolres Pontianak
Bermodalkan nyali besar seperti tubuhnya, ditambah perawakan .....


BU | 04 Apr 2016 | Seremoni
02
696
6382
Tentang DR. Ir. Abdul Rivai Ras
Tentang DR. Ir. Abdul Rivai Ras, MM, MS, MSi


BU | 28 Jul 2016 | Liputan Khusus
03
914
5463
Pecandu Narkoba Tak Pelu Ditahan
Polri telah mengeluarkan Surat Telegram Rahasia (TR) ....


BU | 26 Mar 2016 | Investigasi
04
660
4952
Perempuan Penjual Es Kelapa
Hilda Rahma Ningrum (18th) perempuan asal desa Peganden...


BU | 12 Feb 2016 | Seremoni
05
484
4734
LSM Lidik Krimsus RI Siap Tampung LP
Ketua Umum LSM LIDIK KRIMSUS RI (LKRI), Ossie Gumanti ......


BU | 21 Nov 2015 | Seremoni
06
130
4387
Kisah Cinta Presenter TV dgn Kapolda Kalsel
Kebahagian sedang menyelimuti presenter cantik TvOne Winny C .....


BU | 29 Apr 2016 | Liputan Khusus
07
805
4076
Daftar Lengkap Mutasi Mabes Polri
Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti memutasi 112 perwira...


BU | 08 Apr 2016 | Investigasi
08
719
3679
Hidup Mantan Istri Pengusaha Indonesia
Chua memiliki lebih kurang 200 tas Hermes dan merupakan...


BU | 21 Feb 2016 | Gardanusa
09
552
2949
NASA:Rasulullah SAW Tentang Kiamat Benar
Sungai Eufrat menjadi sumber mata air di Anatolia, Turki ...


BU | 17 Nov 2015 | Liputan Khusus
10
100
2935
Terungkap Dimalam Pertama, Istri Dinodai
Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) 308 Polda Lampung dan Polres .....


BU | 19 Feb 2016 | Gardanusa
11
551
2840
Mengejutkan! Masih Ada Gadis Seperti Ini
Hari itu saya belanja keperluan pribadi di ramayana swalayan


BU | 06 Apr 2016 | Kawasan
12
702
2744
Wanita Ini Habisi Nyawa Pria
Rahmawati alias Rahma (24), sosok pendiam yang mati-matian..


BU | 24 Mar 2016 | News Maker
13
655
2712
Kapolres Muna : Situasi Kondusif
Pesta demokrasi Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada....


BU | 21 Nov 2015 | Gardanusa
14
129
2598
Charli Setia Band Diculik Wartawan
Vokalis beken Setia band Charli Muhammad Van Houten, tadi ma .....


BU | 17 Jan 2016 | Warta Utama
15
382
2487
Kepala Sekolah Malang Terancam di Penjara
Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 Kota Malang Harya .....


BU | 29 Mar 2016 | Kawasan
16
683
2486
"Sekantong Duku" Berbuah Petaka
Terbujuk janji-janji muluk dari rayuan gombal AM...


BU | 08 Oct 2015 | Horison
17
10
2480
Kendaraan Sipil Jangan Pakai Simbol TNI
Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana membuat perintah teg .....


BU | 20 Nov 2015 | Warta Utama
18
119
2420
Kep.BKN: Tak Ada Larangan PNS Masuk LSM
Kepala Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Eko Sutrisno mengata .....


BU | 06 Jun 2018 | News Maker
19
1920
2398
Ustad Abdul Somad Ceramah di Mabes AD
Ustad Abdul Somad berceramah di Mabes Angkatan Darat...


BU | 10 Jan 2016 | Gardanusa
20
267
2392
Sekali Jalan, Syahrini Seharga Rp 2,2 M
Bicara soal Syahrini memang takkan jauh-jauh dari fashion da .....


BACA JUGA .....

HANI BNN Kota Sawahlunto Bertabur Hadiah

BU | 17 Aug 2018 | 11:59 | 2014

Bertepatan dengan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI)


Bupati Ciamis Lepas 850 KKN Unigal

BU | 09 Aug 2018 | 08:28 | 1997

Universitas Galuh Kabupaten Ciamis menggelar upacara pele...


BU | 29 Dec 2015 | 09:12:31 | 202 | Gardanusa | Dibaca : 533 kali

KEMBALI KE GARIS START SEBAGAIMANA NAWACITA DITEGUHKAN

BU | Gardanusa | Kembali Ke Garis Start Sebagaimana Nawacita Diteguhkan



OPINI

Oleh : Risko Mardianto (Ketua DPK Gema Kosgoro Solok Raya)

Solok, BU
Ada banyak nada sumbang terhadap pemerintahan sekarang. Salah satunya adalah hasil survel SMRC yang membandingkan setahun pemerintahan Jokowi-JK dengan SBY-Boediono.

Hasilnya negatif, dalam artian pemerintahan SBY-Boediono lebih didukung publik daripada pemerintahan Jokowi-JK. Padahal, dari sisi sumberdaya manusia politik, jauh lebih banyak kelompok intelektual dan masyarakat sipil yang berada di dalam pemerintahan Jokowi-JK, dibandingkan dengan rezim politik berdasarkan koalisi besar yang digalang SBY-Boediono. Berapapun angka surveinya, sudah bukan lagi persoalan. Rakyat sudah memberikan penilaian. Yang penting, pemerintahan sekarang bersama seluruh komponen masyarakat yang berpikiran gradual layak mencarikan solusi guna menyelesaikan persoalan yang ada. Apa itu pemikiran gradual? Yakni pemikiran berdasarkan lintasan waktu, tahapan demi tahapan. Bahwa pemerintahan sekarang diberikan mandat hingga 20 Oktober 2019. Masih terdapat cukup waktu, lebih dari empat tahun lagi, guna mengembalikan kepercayaan publik.

Pemerintahan sekarang sepertinya banyak terseret arus gelombang pasang tingginya kepedulian publik. Ditambah dengan teknologi informasi yang menjangkau tangan, sehingga siapapun bisa menulis status dan berkomunikasi dengan para penyelenggara negara. Belum lagi skala kekisruhan di dunia yang ikut hadir dalam layar televisi dan berita online. Gelombang pasang kekerasan di Timur Tengah atas nama ISIS ikut memberikan dampak kepada psikologis masyarakat, antara ketiadaan harapan bagi pertolongan sesama manusia. Krisis yang terjadi tidak hanya pada level kemanusiaan, melainkan juga akibat perebutan sumberdaya alam yang kian ringkih. Indonesia seperti dikepung dengan beragam persoalan yang datang ke dalam pikiran individu yang terbuka menerima informasi apapun. Baik dalam skala dunia, benua, sampai pada level negara dan satuan-satuan kecil komponen masyarakat.

Kekerasan menjadi sah, ketika dilabeli dengan religi. Teologi kekerasan menjadi kepemilikan komunal, ketika peredaran persenjataan moderen begitu mudah masuk ke dalam genggaman manusia. Mahkluk yang lemah secara rantai makanan, semakin dikuatkan dengan hadirnya senjata-senjata pembunuh guna mempertahankan apapun, termasuk memusnahkan apapun. Kepercayaan manusia kepada manusia lain digantikan dengan kepercayaan kepada senjata. Bahwa senjatalah yang bisa melindungi teologi. Komunikasi yang kian mudah, justru bukan membawa manusia lari untuk saling menjaga dan membina, melainkan saling menyakiti dan membinasakan.

Negara tidak ada artinya, ketika batas-batas negara hadir lewat simbol-simbol komunal yang saling bersatu membentuk komunitas baru. Indonesia beruntung sudah menyelesaikan etape yang penting, yakni siklus kekerasan dan konflik berdarah sepanjang tahun 1998-2002 di sejumlah daerah. Pengekangan atas senjata adalah bagian dari memutus mata rantai itu. Secara simbolis, pertunjukan penggergajian senjata di Aceh pasca tsunami 2004 dan Nota Kesepahaman Helsinki pada 2005 adalah awal dari dunia baru itu.

Hanya saja, harapan bagi kehidupan yang lebih baik bisa saja musnah, digantikan dengan sikap putus asa, apabila pemerintah tidak segera menunjukkan jalan keluar bagi semua orang. Perlambatan ekonomi bisa jadi pemicu bagi tumbuh-suburnya kelas masyarakat proletar baru yang lebih informatif. Beruntunglah Indonesia tidak mengenal revolusi sosial skala luas, sekalipun melanda sejumlah daerah. Runtuhnya oligarki, feodalisme dan digantikan dengan sabuk nasionalisme yang lahir dari Trisakti sudah membawa tatanan yang lebih baik. Walau terdapat benih-benih feodalisme di sejumlah daerah, secara umum Indonesia adalah wilayah yang bisa mengangkat seseorang yang bukan apa-apa menjadi seseorang yang menjadi sesiapa. Seharusnya makna kehadiran Jokowi ada pada titik itu.

Barangkali, akibat sosoknya yang bukan terlihat seperti seorang pangeran istanalah yang membuat masyarakat dari kelompok yang sama memandang biasa, bahkan rendah. Bahwa Jokowi bukanlah seseorang yang berasal dari Keraton, hanya seorang insinyur yang berprofesi sebagai tukang kayu. Justru nilai keindonesiaan baru terletak di sana, yakni seseorang yang rendahan bisa menjadi seorang Presiden Republik Indonesia di puncak piramida tertinggi kekuasaan. Walau ditertawakan, kepolosan dan keluguan Jokowi justru bagian dari kepolosan dan keluguan masyarakat Indonesia yang memilihnya. Pada titik itulah kita kembali, lalu memulai langkah lagi. Kepolosan dan keluguan masyarakat Indonesia yang menghindari konflik komunal dalam skala besar. Sikap kerendah-hatian dan kehati-hatian dalam melihat persoalan.

Bahkan, dalam aspek yang sempat jadi olok-olok bangsa-bangsa kolonial, yakni ketenangan batin dalam menjalankan penderitaan hidup dan kesengsaraan. Kita harus bisa memulai memahami kelemahan-kelemahan kita, menyesuaikan diri dengan kekurangan demi kekurangan. Sembari terus mengikat solidaritas sosial lewat cara yang alami, berdasarkan local genius masing-masing. Bahkan dalam era yang penuh kekurangan dan keterpurukan, bangsa Indonesia tetap mampu bertahan sebagai bangsa yang memiliki sikap welas asih. Bagaimana mungkin dengan segala macam kemajuan yang ada sekarang, mulai dari pesawat udara, hingga gadset di tangan, bangsa ini harus terus menerus berbicara tentang kekurangan diri sendiri? Capaian demi capaian yang berhasil dibuat oleh rezim-rezim sebelumnya, secara akumulatif adalah bagian dari keberhasilan kita sebagai bangsa.

Begitu juga kekurangan-kekurangan komulatif, adalah bagian dari masalah yang harus dicarikan jalan keluarnya, di bidang apapun. Kalaupun caranya adalah dengan merombak kabinet, tidak ada masalah. Tentu bukan untuk menuduh mereka yang tersingkir adalah bagian dari persoalan, melainkan guna mencarikan sumberdaya manusia yang lebih baik lagi, dalam ritme yang sesuai dengan cita-cita bangsa dan visi-misi yang sudah diteguhkan. Tidak boleh ada orang yang dendam, hanya karena sudah kehilangan jabatan atau pangkat. Selama sistem pemerintahan masih memungkinkan siapapun bisa bekerja sebaik-baiknya guna mencari kehidupan yang lebih sesuai, siapapun yang menjadi penyelenggara negara adalah bagian dari kebaikan yang tersisa dalam bangsa ini. Memulai kembali dari awal, sebagaimana Nawacita dan Trisakti diteguhkan, adalah bagian dari upaya menyandarkan perahu phinisi ke pelabuhan. Barangkali ada layar yang sobek, tetap saja perahu harus dilayarkan kembali. Dengan bekal seadanya, kemampuan diri sendiri, perahu Indonesia tetaplah melaju meraih cita-citanya...



Share on :


Sumber : -




FORM KOMENTAR

Nama :
E-mail :
Komentar :
Kode : 607230


DAFTAR KOMENTAR


Baca Selengkapnya di Media Berita Nasional BHAYANGKARA UTAMA