Beranda Daerah 7 Desa Dari Kabupaten Sikka Belajar Pengelolaan Pariwisata Di Detusoko Barat

7 Desa Dari Kabupaten Sikka Belajar Pengelolaan Pariwisata Di Detusoko Barat

87
0

Ende, NTT

Sebanyak 40 peserta dari 7 Desa berasal dari Kabupaten Sikka melakukan studi lapangan tentang Pengelolaan Pariwisata di Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende, Rabu 07 hingga Kamis 08 September 2021. Ke – 7 desa terdiri dari 3 Desa di Kepulauan, yakni Desa Kojadoi, Desa Perumaan, Desa Kojagete, dan 4 Sesa di Daratan, yakni Desa Lewomada, Desa Egon Desa Waerterang dan Desa Darat Pantai. Ke- 40 an peserta ini terdiri atas Pemerintah Desa, Pengurus Bumdes, Kelompok Sadar Wisata dan Pelaku Usaha.

Goerge Roni Valentino, S.E, Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka menuturkan ke-40 peserta dari Maumere datang belajar di Detusoko dalam hal Pengelolaan Desa Wisata. Sebelumnya 2 hari kami belajar teori dengan narasumber di Maumere dan saat ini kami
Studi lapangan, Melihat langsung dan lebih banyak hal yang digali khusus terkait kelembagaan. Di sini kami temukan Pokdarwis dan Bumdes, Lembaga Adat dan Pemerintah bersinergi bekerjasama, tambah George di sela-sela kegiatan di Kantor Desa Detusoko Barat, Kamis (8/9/2021).

Gerorge melanjutkan, kelembagaan itu harus mulai digerakkan kembali karena selama ini sudah kurang, Lembaga Adat dibentuk di Sikka tapi tidak jalan. Palingan penyelesaian masalah. Terkait alasan mengapa belajar di Detusoko, kita selalu mengikuti postingan tentang Detusoko Barat di media sosial dan juga menjadi desa prestasi dan kami pingin belajar di sini. Dan kami temukan sangat kompak, baru satu tahun lebih tetapi kelihatan makanya kita bawa peserta belajar di sini. “Kami berkomitment tahun depan kami ke sini lagi untuk belajar,” tutur George.
Koordinator pelatihan pengelolaan desa Wisata, Kondradus Rindu menambahkan pelatihan yang mereka lakukan di Maumere lebih banyak teori, dan di Detusoko barat mereka ingin belajar karena desa ini lagi buming dan apa yang dilakukan masyarakatnya sudah kelihatan. Ada 3 hal yang kami temukan di sini yakni, management terbuka antara pemerintah, lembaga adat dan gereja. Perlu seorang pemimpin muda yang energik, dunia sekarang dunia digital, kita harus kuasai digital kalau tidak kita digilas jaman.

Sejalan dengan George, Kondradus yang juga ketua ASSITA Kabupaten Sikka menuturkan, Detusoko sangat menghargai pemangku adat, mengapa Detusoko barat kompak lembaga adat memiliki peran penting dalam mendukung pariwisata. Di sini Satu untuk semua, ada spirit bersama. “Ini kami dari Maumere perlu pelajari,” tambah Rindu.

Sementara itu perwakilan peserta Badingsalasa kepala seksi kepemerintahan Desa Parumaan yang juga salah satu peserta pelatihan menyampaikan apresiasi kepada Desa Detusoko Barat, bahwa ada banyak yang mereka dapatkan. “Kami melihat secara langsung di lapangan tentang bagaimana pengelolaan pariwisata. Ada ilmu dan pengalaman dari kegiatan ini, kami berterimakasih kepada dinas pariwisata Kabupaten Sikka yang sudah memfasilitasi kegiatan dan juga Desa Detusoko Barat yang sudah menerima kami dan kami melihat dan belajar bahwa pengelolaan pariwisata dampaknya sangat bagus untuk masyarakat. Dan kami mencoba setelah pulang dari sini kami bisa terapkan sedikit nanti,” pungkasnya.

Senada dengan Bading, Selesman S. Fil, Desa Waerterang apresiasi luar biasa kami dapat sebuah management yang terbuka dan kerjasama antara pemimpin dan team, saya temukan bagaimana modal kepemimpinan untuk membangun kerjasama tidak hanya dengan satu sistem struktural tetapi juga dengan metode kekeluargaan kebudayaan untuk bisa jadi keberhasilan bersama. Hal ini gampang dan sulit untuk diterapkan karena kadang jaga gengsi dan jaga kewibawaan, hal sederhana namun susah untuk dibuat. Persoalan bagi kami di desa bukan dana tetapi bagaimana kepala desa membangkitkan semua pihak merasa berkepentingan keterlibatan, ini yang kami temukan di Detusoko ini. Kami temukan ada mantan kepala desa dua periode namun bisa di bangun kerjasama. Selain itu kami temukan di sini kuat karena budaya masih kuat, peran kolaborasi desa adat dan gereja mengambil peran masing masing.
Sementara itu, St. Stanislaus Satu, Ketua Pokdarwis Niraneni Desa Detusoko Barat kepada para peserta pelatihan menyampaikan aneka tips dan pembelajaran terkait dengan kelompok sadar wisata, bagaimana pokdarwis dengan aneka unit kegiatan, sanggar homestay dan juga dan bagaimana peran tetua adat dalam mendukung pembangunan di Desa. Stanis yang juga perwakilan dari tua adat menguatkan para peserta bahwa kita diberikan talenta untuk berbuat sesuatu, memang ada banyak tantangan namun jadikan tantangan untuk kita terus berkembang maju dan mendukung membangun Desa.

Nando Watu, Kepala Desa Detusoko Barat, menyampaikan terimakasih kepada dinas Pariwisata Kabupaten Sikka melalui 40 peserta dari ke – 7 Desa bisa datang belajar di Detusoko. “Ini sebuah kolaborasi dan saling belajar bersama, teman-teman kita dari Maumere belajar di Detusoko sebagai bagian dari saling mengisi, berbagi pengalaman dan pengetahuan, dan saling inspirasi. Kami dari Detusoko belajar dari kawan – kawan Maumere begitu pula sebaliknya,” tutur Nando.

Nando Watu, Kepala Desa Detusoko Barat ini menambahkan, pentingnya rasa saling belajar antara Desa wisata. Desa Detusoko Barat menjadi juara 3 festival binaan Bank NTT dan masuk 50 besar kategori Desa wisata karena saling terbuka dan mau belajar dan saling berbagi. Kita memberikan peran lebih banyak kepada kelembagaan yang ada di Desa untuk terlibat dalam kegiatan di Desa.

Pantauan media ini para peserta dan panitia disambut dengan hangat oleh warga Desa Detusoko Barat melalui tarian adat penerimaan, peserta masuk rumah adat Suku Rini, berdialog dengan tetua adat, menikmati tarian suguhan sanggar Daudole Pokdarwis Niaraneni, dialog tentang bumdes dan Pokdarwis dan acara ramah tamah di lepalio Cafe Detusoko dan peserta di bagi ke homestay – homestay para penduduk lokal. (Damianus Manans)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here