Beranda Hukum Belum Tuntas Perkara Pencurian Uang, Oknum Polisi Polrestabes Medan Disidang Lagi Kasus...

Belum Tuntas Perkara Pencurian Uang, Oknum Polisi Polrestabes Medan Disidang Lagi Kasus Narkoba

55
0

Medan, Sumut

Tidak hanya terjerat perkara dugaan pencurian uang Rp 650 juta dari hasil penggeledahan kasus narkotika, oknum polisi Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Medan Rikardo Siahaan diadili kembali perkara kepemilikan narkotika di Pengadilan Negeri Medan, Kamis (2/12/2021).

Dalam sidang yang digelar secara daring tersebut, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan menghadirkan 4 orang saksi dari kepolisian yakni Hendri Rikson Sibarani, Muhammad Husni, Kamarudin, dan Juniman Martuan yang menerima penangkapan terdakwa Rikardo Siahaan.

Ia menjelaskan, Rikardo ditangkap oleh mabes Polri di tempat Hiburan Malam Capital Building pada tanggal 17 Juni 2021 bersama tiga rekannya sesama polisi yakni Matredy Naibaho, Toto Hartono, dan Marjuki Ritonga.

“Diawali penangkapan yang dilakukan Paminal mabes polri, lalu diserahkan dirnarkoba Polda Sumut, lalu dilakukan pemeriksaan terhadap Ricardo Siahaan, terdakwa kita terima tanggal 21 Juni 2021” kata saksi Hendri menjawab pertanyaan Hakim Ketua Ulina Marbun.

Dikatakan Hendri bahwa saat itu terdakwa Rikardo kedapatan menyimpan pil ekstasi, yang disebut didapat dari hasil pancing beli.

“Terdakwa memiliki naroba jenis pil ekstasi merek superman, dengan berat 0,31 gram. Dari pengakuannya barang itu didapatnya dari pancing beli dari seseorang bernama Doger di daerah mangkubumi. Jadi dia polisi seolah-olah membeli,” katanya.

Lalu, saat diecar Majelis Hakim apakah ada istilah pancing beli dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) kepolisian, saksi menjawab tidak ada.

Ia menjelaskan bahwa pancing beli yang dimaksud Rikardo adalah Under Cover Buy yang merupakan teknik khusus dalam penyelidikan tindak pidana narkotika dan precursor narkotika dimana seorang anggota polisi (dibawah selubung) bertindak sebagai pembeli dalam jual beli narkotika.

“Polisi tidak dibenarkan pancing beli yang boleh under cover buy sesuai SOP Bareskrim tentang penyelidikan. Dan kalau under cover buy wajib membuat laporan tertulis dan lisan dan menyerahkan Barang Bukti tersebut secepatnya ke penyidik,” katanya.

Lantas saat ditanya Hakim Ketua apakah Rikardo memiliki surat tugas melakukan under cover buy, saksi menjawab awalnya tidak ada.

“Keterangan dari paminal tidak ada, lalu
tiba-tiba muncul suratnya setelah tanggal 21 diperlihatkan ke penyidik surat under cover buy terdakwa,” bebernya.

Namun kata saksi anehnya di surat tersebut tidak dirinci bagaimana under cover buy tersebut dilakukan, dan apa barang buktinya.

“Harusnya kalau Under Cover Buy ya barbutnya harus diserahkan ke penyidik bukan disimpan oleh petugas, dan di surat itu harusnya terperinci disebutkan,” bebernya.

Usai mendengar keterangan para saksi, Majelis Hakim lantas mengkonfrontir kepada terdakwa. Lantas terdakwa Rikardo mengaku kalau ia tidak menyerahkan Barbut tersebut karena ada kegiatan lain.

“Kita melakukan pancing beli itu bahasa awam aja bu Hakim, itu maksudnya Under Cover Buy. Kita tidak serahkan barang buktinya karena ada tugas yang lain,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, selain perkara kepemilikan narkotika terdakwa Rikardo Siahaan dan beberapa terdakwa oknum polisi lainnya yakni Matredy Naibaho, Toto Hartono, Marjuki Ritonga (berkas terpisah) juga terjerat perkara pencurian uang Rp 650 juta dari hasil penggeledahan kasus narkoba.

Kasus ini bergulir setelah keempatnya diamankan Paminal Mabes Polri dan kini masih menjalani sidang di PN Medan.

Informasi dihimpun di luar persidangan, kasus kepemilikan narkotika yang turut menjerat sejumlah oknum Polisi Satres Narkoba Polrestabes Medan tersebut, terkuak dari upaya penyelidikan tim Paminal Mabes Polri sehubungan kasus pencurian uang ratusan juta hasil penggeledahan yang menjerat lima oknum Polisi Satres Narkoba Polrestabes Medan. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here