Debt Collector FIF Mengintimidasi dan Menyita Motor Secara Paksa Anak Dibawah Umur

0
459
Foto: Ilustrasi.

Kejadian tak mengenakan dirasakan Medyna Aprilia Artamsah (15), perempuan asal Kelurahan Gunungparang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Sepeda motor Honda Beat nopol F 5954 OI disita secara paksa oleh debt collector (morbag) PT. FIF, di Jalan Benteng, Kamis (04/1/2024).

Sukabumi, Jabar // Medyna A. A mengatakan, kejadian begitu cepat saat dirinya sedang mengendarai motor, tiba-tiba dua orang yang menggunakan motor di belakangnya meminta untuk berhenti. Karena takut, ia pun berhenti karena merasa tidak bersalah.

Tambahnya, “Saya meminta ke pihak morbag untuk berkomunikasi sama ibu saya yang sebagai pemilik atas nama motor, karena saya tidak tau permasalahannya sampai motor mau ditarik dan saya merasa lebih ketakutan ada prilaku yang tidak menyenangkan oleh anggota morbag tersebut”.

“Saya sampai menangis karena dibentak-bentak dan saat hendak mau menelpon orangtua yang kedua kali, handphone saya dirampas oleh salah seorang anggota morbag dengan alasan nanti nelpon di kantor (FIF),” imbuhnya.

TA (45) selaku pemilik motor dan juga sebagai ibu korban saat dimintai keterangan menyampaikan, alasan terjadinya penarikan motor secara paksa oleh anggota morbag karena adanya keterlambatan tunggakan cicilan selama tiga bulan ke PT. FIF, yang beralamat di Jl. Bhayangkara kota Sukabumi.

“Padahal sebelumnya sudah ada konfirmasi dari collector resmi pihak PT. FIF yang mendatangi saya untuk menanyakan kapan mau dibayar cicilan yang sudah nunggak,” kata TA.

Lanjut TA (45), setibanya di kantor FIF, salah seorang staf menyodorkan sepucuk kertas untuk terlebih dahulu harus ditanda tangani sebagai syarat untuk pengambilan kembali unit motor yang ditarik paksa oleh anggota morbag.

TA (45) menjelaskan, “Sebelum saya menanda tangani sepucuk kertas tersebut, saya sempat menolak karena belum mengetahui bunyi isi dalam sepucuk kertas tersebut dan tidak dijelaskan sebelumnya secara terbuka isi bunyinya oleh staf dari pihak kantor FIF”.

“Namun setelah saya menanda tangani sepucuk kertas tersebut walaupun secara terpaksa, barulah staf kantor FIF menjelaskan isi bunyinya, bahwa nasabah harus membayar biaya batal tarik senilai Rp 1,5 juta. Sontak saya marah sambil menangis dengan kesalnya,” terangnya.

“Saya merasa dijebak dan ada indikasi dugaan unsur pemerasan oleh oknum FIF karena harus membayar biaya batal tarik senilai Rp 1,5 juta yang dibebankan ke nasabah,” jelasnya

LH (47) ayah dari korban dan selaku jurnalis salah satu media online, merasa geram dengan perilaku intimidasi dan perampasan handphone kepada anaknya oleh anggota morbag mengatas namakan FIF.

“Atas kejadian itu saya sebagai orangtua akan melaporkan ke Aparat Penegak Hukum (APH) agar tidak terjadi lagi kepada masyarakat yang lain,” paparnya.

“Saya berharap kepada APH untuk menindak lanjuti terkait permasalahan ini dan memberantas morbag/matel, karena dinilai sudah sangat meresahkan masyarakat di wilayah Sukabumi,” tutupnya.

Ketua Forum Jurnalis Independen Sukabumi, Hary Akbar atau sering disapa (Kang Ayi) menyatakan, harus ada tindakan tegas dari APH kepada para oknum eksternal (Morbag) dari leasing.

“Pembiayaan di Kota Sukabumi yang meresahkan terhadap nasabahnya, dimana pihak juru sita dari leasing tidak mempunyai etika dan SOP yang jelas ketika menjalankan tugasnya di lapangan,” paparnya.

“Hal itu sangat disayangkan, karena pihak juru sita dari leasing tersebut terkesan arogan dan sampai mengintimidasi nasabahnya hingga menyita telpon seluler nasabah dan menarik kendaraan secara paksa di jalan,” tegasnya. (Heri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here