Beranda Daerah Diduga Tidak Berizin, Pembangunan Di Tanah Milik Negara Disulap Jadi Milik Pribadi

Diduga Tidak Berizin, Pembangunan Di Tanah Milik Negara Disulap Jadi Milik Pribadi

47
0

Kab. Bogor, Jabar

Pembangunan selayaknya harus mempunyai izin apalagi diduga pembangunan tersebut diatas tanah negara, pembangunan yang dilakukan oleh segelintir orang yang ingin meraup keuntungan secara pribadi, hal ini diduga akibat lemahnya pengawasan dari UPTD PSDA Ciliwung-Cisadane.

Seperti halnya proyek bangunan yang berdiri di lahan milik PTPN yang saat ini sedang melakukan pengurugan, setu Ciminggir milik PSDA, yang diduga akan dijadikan kawasan wisata berlokasi di desa Ranca Bungur, Kecamatan Ranca Bungur, Kabupaten Bogor- Jawa Barat

Dari pantauan media yang turun ke lokasi pada (4/2/22) sudah berdiri pagar tembok, berukuran kurang lebih 2 meter dan diduga pemilik belum mengantongi IMB, karena membangun diatas tanah negara, milik PTPN dan pengurugan dilakukan di kawasan Setu Ciminggir. Berdasarkan Permen PUPR no 28 Tahun 2015 jarak boleh yang dibangun dengan garis sepadan setu berjarak 60 meter.
Untuk mencari informasi lebih lanjut pihak Media memasuki kawasan proyek tersebut, namun tidak terlihat adanya aktifitas yang dilakukan, hanya terdapat satu alat berat exavator / beko dan beberapa orang pekerja sedang beristirahat di saung sang pemilik .

Saat media menghampiri beberapa orang tersebut untuk melakukan konfirmasi, salah seorang yang namanya tidak bersedia disebutkan mengatakan,” Disini akan di bangun destinasi wisata, Kalau Pemiliknya emang orang sini, tapi kalo lebih jelasnya saya juga kurang tahu, karena disini kami hanya bekerja sesuai perintah mandor, kebetulan hari ini mandornya belum datang.

Kalau terkait pengurugan setu, seperti yang tadi di pertanyakan Media, itu bisa lihat sendiri seraya meyakinkan media” Kami bukan sedang melakukan pengurugan melainkan sedang melakukan pembersihan (Reterensi) pengerukan sampah basah dan kenapa pakai alat berat karena manual gak akan sanggup, makanya di sewa lah satu buah exavator milik swasta agar pekerjaan kami tidak terlalu berat, di setu ini karena banyaknya sampah seperti akar bambu yang sulit sekali, karena setunya gak terawat, ” tuturnya.
Lebih lanjut ia katakan ,” lagian disini juga pemilik gak sembarang main bangun, beliau tahu aturan karena ada batas-batas, mana wilayah PSDA dan mana wilayah PTPN dan yang datang kesini juga bukan hanya orang dari media, melainkan ada dari Dinas Satpol PP, PSDA, PTPN, sudah pada datang kesini, tapi tidak ada masalah dan kalau pun ada masalah mungkin pekerjaan ini sudah dihentikan oleh pihak berwenang.

Disini kami tidak mengganggu kelestarian setu, melainkan kami rawat dan kami jaga, sedangkan tepat di bibir sungai juga ada patoknya, jadi wilayah dimana saja yang boleh dibangun dan yang tidak,” Tuturnya

Namun tiba-tiba saat kami sedang melakukan konfirmasi, sejenak terhenti, karena ada seseorang di lorong tembok yang nadanya sedikit agak keras menanyakan, ada pak Dewan gak, kemudian terdengar dari salah seorang yang menjawab tidak ada, dewan sedang ada acara diluar. Kembali media bertanya, ” memang pak dewan pemilik nya? dari fraksi mana? lalu dia menjawab dari fraksi Demokrat. (Richard Tobing)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here