Beranda Seputar Sumbar Dinilai Langgar Trantibum, Puluhan Lapak PKL Di Kawasan Lubeg Kembali Ditertibkan

Dinilai Langgar Trantibum, Puluhan Lapak PKL Di Kawasan Lubeg Kembali Ditertibkan

66
0

Padang, Sumbar

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang menertibkan sekitar 20 petak warung di dekat kampus Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Lubuk Begalung, Senin (20/6/2022).

Sejumlah warung tersebut dianggap melanggar ketentraman dan ketertiban umum (Trantibum), misalnya memanfaatkan lebar selokan.

Sejumlah atap dari warung-warung tersebut dianggap menyalahi aturan, karena agak menjorok ke arah jalan.

Puluhan personil Satpol PP kemudian membongkar atap-atap warung tersebut.

Kepala Bidang Trantibum Pol PP Padang, Deni Harzandy mengatakan, sebelum menertibkan 20 petak warung, pihaknya sudah menyosialisasikan sebelumnya kepada para pemilik warung.

Penertiban tersebut, sesuai dengan Perda Kota Padang No. 11 tahun 2005, tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.

“Pedagang tidak dilarang untuk berjualan, mereka tetap bisa berdagang, namun harus sesuai dengan aturan,” ujar Deni Harzandy kepada bhayangkarauutama.com., Senin (20/6/2022).

Adapun kata dia, selokan yang ada di kawasan itu juga menjadi langganan genangan air, sehingga perlu untuk dilakukan pengerukan oleh dinas terkait.
“Sosialisasi sudah dilakukan kesekian kali, tapi masalahnya banyak di antara pedagang ini bukan pedagang lama, jadi ndak mungkin kita mulai dari nol. Kita cuma melihatkan berkas, Alhamdulillah mereka paham,” ujarnya.

Pantauan bhayangkarautama.com., personil Satpol PP tampak menertibkan atap sejumlah warung yang dianggap melanggar.

Namun, ada satu warung yang tidak ditertibkan, yaitu warung pecel ayam.

Alasannya, karena pemilik warung sudah menyiapkan lauk dan nasi sejak pagi hari.

“Ada satu warung pecel ayam yang dia sudah membuat makanan, kita berikan kesempatan hingga besok, bukan kita melepaskan mereka, kita tidak mungkin bertangan besi, harus humanis sehingga mereka paham,” tambahnya.

Sementara itu, seorang pedagang yang terdampak, menerima penertiban ini, karena ia sadar bahwa menyalahi aturan.

Namun, sejumlah pedagang lainnya mengaku resah dengan penertiban itu.

Mereka menganggap bahwa dengan ia menutup selokan, bukan berarti ia menggunakan fasilitas umum.

“Malahan dengan menutup selokan ini, selokan ini bersih dari sampah. Bisa dilihat di lokasi lain yang tidak ditutup banyak rumput liar dan juga sampah,” kata salah seorang pedagang nasi goreng, Joni (57).

Selain itu, ia yang berjualan makanan ini ragu pembeli bakal nyaman berbelanja di warungnya, lantaran selokan di depan warungnya tidak boleh ditutup.

“Dari ujung selokan kadang ada yang buang kotoran ayam, dan baunya agak menyengat, sedangkan saya di sini jual makanan dan minuman,” ujar Joni.

Berbeda dengan Joni, salah seorang pedagang di lokasi tersebut, Rafrizal (49) mengungkapkan penertiban yang dilakukan Satpol PP terbimbing dan tidak ada kekerasan.

“Penertibannya bagus, tidak ada kekerasan, dan mereka mengayomi kami juga,” jelasnya.

Rafirzal yang sudah berjualan sekitar 5 tahun di lokasi tersebut mengaku sudah sering ditegur oleh pihak Satpol PP. Menurutnya, penertiban ini juga untuk kenyamanan bersama. (AAP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here