Beranda Bhayangkara Forum Group Discussion Polres Serang

Forum Group Discussion Polres Serang

42
0

Forum Group Discussion (FGD) Rembugkan Obrolan Tentang Indonesia (ROTI) Polres Serang, hadirkan narasumber Sekretaris Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme / FKPT Provinsi Banten Amas Tajudin dan Wakil Rektor UIN SMH Banten KH. Wawan Wahyudin.

Banten | Sekretaris Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme / FKPT Provinsi Banten Amas Tajudin, mengatakan, sangat mengapresiasi Kepolisian atas terselenggaranya FGD ROTI Polres Serang dalam menanggulangi paham radikalisme.

“Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka upaya pencegahan perkembangan paham radikalisme dan bentuk kepedulian Polri maka dari itu butuh dukungan dari seluruh kelompok masyarakat sehingga tercipta situasi yang kondusif. Pemahaman kata radik apabila melihat pada kamus bahasa Indonesia tidak ada masalah namun yang menjadi masalah yaitu kesalahan dalam melakukan prakteknya sehingga dikatakan paham radikalisme. Ditambah lagi dalam prakteknya selalu menggunakan dalil-dalil agama yang baru dikupas sebagian kecil (tidak mendalam/sepotong-sepotong) dan dipergunakan untuk mengancam tindakan kekerasan / tindakan ekstrim lainnya,” kata Amas.

Menurut, Amas, pandangan BNPT terkait radikalisme yaitu seseorang dapat dikatakakan radikalisme ketika yang bersangkutan hendak mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi lainnya. Dan apabila paham radikalisme tersebut sudah melakukan tindakan/gerakan untuk mengganti ideologi negara secara kekerasan dapat dikatakan terorisme.

Paham radikalisme di Indonesia selalu bersikeras untuk mengganti ideologi dasar negara menjadi hukum khilafah, yang mana hukum khilafah adalah benar Islam namun bukan satu-satunya pilihan suatu negara mengingat di Indonesia khilfah tertolak dikarenakan sejak dulu Pancasila dan UUD 1945 sudah disepakati sebagai dasar negara.

“Kemudian saat ada gerakan terorisme di seluruh wilayah Indonesia selalu dialamatkan kepada agama Islam padahal potensi gerakan radikalisme dan terorisme ada disetiap agama. Seseorang yang terpapar paham radikalisme juga menganggap dirinya selalu benar dan orang lain selalu salah, sehingga pada akhirnya akan menyimpulkan Negara tidak akan berkah / permasalahan dalam suatu negara tidak akan pernah selesai apabila tidak menggunakan hukum khilafah,” ucap Amas Tajudin.

Wakil Rektor UIN SMH Banten KH. Wawan Wahyudin, mengatakan, paham radikalisme di Indonesia saat ini mulai cukup mempengaruhi masyarakat Indonesia meskipun jumlahnya tidak banyak namun hal demikian harus segera diantisipasi dan dicegah agar paham radikalisme tidak cepat menyebar luas masyarakat dan rakyat Indonesia. Ciri-ciri seseorang yang terpapar paham radikalisme yaitu Intoleran kepada orang lain, fanatik, ekslusif, dan revolusioner.

“Adapun untuk faktor penyebab seseorang masuk kepada paham radikalisme yaitu faktor domestik (kekecewaan terhadap pemerintah), faktor luar negeri, dan faktor kultural. Pemerintah telah melakukan 2 (dua) langkah dalam menyikapi paham radikalisme dan terorisme diantaranya melakukan kontra radikalisasi (menyampaikan pemahaman nilai-nilai agama non kekerasan melalui pendidikan formal/non formal) dan deradikalisasi,” tutur KH. Wawan Wahyudin.

Menurut, KH. Wawan Wahyudin, Pancasila adalah hadiah besar bagi umat Islam di Negara Republik Indonesia atas kemerdekaan yang telah diraih dari masa penjajahan. Pemilihan bentuk negara republik bukan hal yang salah, mengingat di beberapa negara Islam lainnya juga menggunakan republik.

KH Wawan Wahyudin juga menyampaikan apabila sudah merasa beriman, agar dipertahankan ditambah dengan amal soleh dan ilmu yang bermanfaat serta tidak perlu mengurusi orang lain.

“Guna mencegah meluasnya paham radikalisme di Indonesia, agar tanamkan jiwa nasionalisme dan kecintaan kepada NKRI sejak dini. Agar dalam penggunaan medsos selalu memberikan pesan-pesan kedamaian guna menangkal tindakan radikalisme mengingat radikalisme adalah tindakan kejahatan yang mempunyai jaringan kompleks yang tidak hanya bisa didekati dengan pendekatan kelembagaan dan melalui penegakan hukum semata,” pungkas KH. Wawan Wahyudin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here