Beranda Polda Gempur KKB Papua, Kapolda Fakhiri Minta Bantuan Mabes Polri

Gempur KKB Papua, Kapolda Fakhiri Minta Bantuan Mabes Polri

57
0
Kapolda Papua, Irjen Pol. Mathius D. Fakhiri

Jayapura, Papua

Kapolda Papua, Irjen Pol Mathius D Fakhiri terpaksa meminta bantuan Mabes Polri untuk menghadapi ulah KKB Papua yang semakin kejam dari hari ke hari.

Mabes Polri diminta untuk sesegera mungkin menerjunkan satu kompi brimob ke Papua. Bantuan brimob itu kemungkinan akan ditempatkan di Distrik Kiwirok.

Permintaan penambahan pasukan itu disampaikan langsung oleh Kapolda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri di Jayapura, Rabu (22/9/2021).

Kapolda Fakhiri mengatakan, bantuan pasukan itu dalam rangka penegakkan hukum pasca insiden Kiwirok yang menewaskan suster Gabriela Meilani (22) pada Senin 13 September 2021.

Fakhiri mengatakan, bahwa saat ini sudah ada dua pleton Brimob Polda Papua di Distrik Kiwirok.

Untuk memback up personil polisi di Distrik Kiwirok, kata Kapolda Fakhiri, pihaknya sudah minta Mabes Polri untuk menambah pasukan.

“Saya sudah meminta ke mabes satu kompi brimob. Saat ini dua pleton brimob Polda Papua sudah ada di sana, di Distrik Kiwirok,” tandasnya.

Disinggung soal keberadaan seorang tenaga kesehatan bernama Gerald Sokoy yang hingga kini belum ditemukan, yang diklaim disandera KKB, Kapolda enggan berkomentar.

“Saya fokus bekerja usut tuntas kejadian di Pegunungan Bintang, hasil penyidikan sedang didalami oleh Reskrim Polda Papua,” kata Fakhiri.

Dia mengaku telah melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah setempat, terkait penanganan KKB.

“Malam hari ini saya akan bertemu Bupati Pegunungan Bintang terkait situasi keamanan di sana,” katanya.

Sebelumnya, seorang prajurit TNI gugur saat melakukan pengamanan proses evakuasi jenazah Suster Gabriella Maelani di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Selasa 21 September 2021.

Personel TNI yang gugur adalah Pratu Ida Bagus Putu, mengalami luka tembak di bagian kepala.

Sementara itu, jenazah suster Gabriella Maelani sudah dimakamkan di Kota Jayapura pada hari Rabu, 22 September 2021.

Situasi di Papua belakangan ini semakin tidak kondusif. Pasalnya, aksi anarkis yang dilakukan KKB Papua sulit diprediksi. Apalagi muncul sinyal baru bahwa komite nasional papua barat atau KNPB merupakan kelompok afiliasi dari KKB Papua.

KNPB disebut-sebut selalu berada di belakang KKB Papua. Bahkan menjadi dalang atas kericuhan di sejumlah tempat.

Bukti itu nyata dalam insiden yang terjadi di Posramil Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat pada Kamis 2 September 2021. Dalam tragedi itu, 4 prajurit TNI tewas meregang nyawa. Mereka dibantai saat sedang tertidur pulas di Posramil Kisor.

Dalam kasus itu, KNPB diduga terlibat. Organisasi tersebut berada di balik penyerangan yang menewaskan 4 prajurit TNI itu. Dan hanya berselang seminggu kemudian, tepatnya Senin 13 September 2021, aksi serupa terjadi di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Dalam insiden itu, satu orang tenaga kesehatan dibunuh, setelah sebelumnya korban terlebih dahulu dianiaya dan dilecehkan.

Berangkat dari peristiwa yang ada dan fakta memperlihatkan bahwa situasi di Papua semakin mencekam, sehingga berkembang komentar kalau Papua akan menjadi zona hitam Indonesia, zona perang tiada henti.

Apalagi pada saat ini, bala bantuan baik dari TNI maupun Polri terus mengalir ke Papua. Hanya saja, gerakan separatis yang dilakukan KKB Papua dan KNPB sulit diprediksi.

Namun fakta bahwa perang tiada henti di Papua, kini sedang terjadi di daerah itu. Perang tersebut digelorakan oleh KKB Papua.

Gabriela Bukan Sekadar Perawat

Gabriela Meilani (22) bukanlah sekadar perawat yang melayani kesehatan masyarakat, sebagaimana umumnya.

Gabriela Meilani adalah sosok suster yang sangat terampil dan sangat diandalkan dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Namun tenaga kesehatan yang profesional tersebut, tewas mengenaskan di tangan kelompok kriminal bersenjata Papua.

Kelompok separatis itu melakukan penyerangan secara mendadak di Distrik Kiwirok pada Senin 13 September 2021.

Dalam serangan tersebut, KKB Papua membakar sejumlah fasilitas umum dan beberapa rumah warga lainnya. Fasilitas umum yang dibakar itu, yakni gedung SD Kiwirok, kantor bank papua perwakilan Kiwirok, Pasar Kiwirok dan Puskesmas Kiwirok.

Yang menyedihkan, adalah ketika KKB Papua menyerang Puskesmas Kiwirok, mereka tak saja membakar gedung puskesmas itu tetapi juga membunuh seorang tenaga kesehatan bernama Gabriela Meilani. Bahkan beberapa petugas kesehatan yang lain juga diperlakukan sewenang-wenang. Mereka dipukul, ditentang bahkan dianiaya hingga akhirnya dibuang ke dasar jurang.

Untuk diketahui, Distrik Kiwirok merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, letaknya jauh dari Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Letaknya di wilayah pegunungan Papua membuat akses ke distrik Kiwirok hanya bisa melalui udara. Distrik Kiwirok merupakan wilayah terisolir, sangat jauh dari keramaian.

Dalam kondisi itulah para tenaga kesehatan ditugaskan ke sana untuk melayani masyarakat, termasuk Gabriela Meilani.

Kepala Distrik Kiwirok, Abedius Tepmul mengungkapkan bahwa suster Gabriella Meilani merupakan tenaga medis yang diandalkan di daerahnya.

“Makanya saya sangat berduka atas kepergian tenaga medis yang saya andalkan di Distrik Kiwirok ini,” katanya kepada awak media, di Jayapura, Selasa (21/9/2021) malam.

Abedius mengatakan, Distrik Kiwirok hingga kini masih sangat membutuhkan tenaga kesehatan.

“Tenaga medis di Distrik Kiwirok selama ini sangat minim, sehingga kami pasti membutuhkan tenaga medis dari luar,” ungkapnya.

Abedius mengaku sangat menyesal atas insiden yang menimpa suster Gabriella serta rekan seprofesinya.

“Saya kepala Distrik Kiwirok sangat menyesalkan tentang keadaan tenaga nakes yang meninggal, sehingga kami sangat prihatin dan sangat kecewa sekali untuk kepergian tenaga nakes yang kita sayangi ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang, Jeremias Tapyor mengaku tidak menduga kekerasan terhadap nakes terjadi di wilayahnya.

Terlebih menewaskan Gabriel Melani serta melukai sejumlah nakes di pelosok pegunungan Papua, Distrik Kiriwok.

Dia menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada pihak keluarga Gabriella.

”Pemerintah sampaikan permohonan maaf atas perlakuan masyarakat, sehingga adik terkasih menjadi korban,” ujarnya.

Jeremias berujar, kepergian Gabriella sangat melukai hati semua tenaga kesehatan, bukan hanya di Papua, tetapi di seluruh wilayah Indonesia.

“Ini tragedi sangat memilukan dan ini akan di kenang semua pihak terutama para nakes,” tandasnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here