Beranda Hukum Hacker Indonesia Jebol Dana Covid-19 Amerika, FBI Gandeng Polda Jatim Bekuk Pelaku

Hacker Indonesia Jebol Dana Covid-19 Amerika, FBI Gandeng Polda Jatim Bekuk Pelaku

36
0

Surabaya, Jatim

FBI (Federal Bureau of Investigation) bersama Polda Jatim telah berhasil menangkap dua orang WNI, yang terbukti membuat scam page atau situs tiruan website pemerintah Amerika Serikat. Dua orang ini ditangkap, dengan dalih menyebabkan kerugian bagi pihak pemerintah negara Amerika hingga 60 juta dolar AS, yang notabene merupakan bantuan Covid-19.

Dua orang tersebut yakni Shofiansyah Fahrur Rozi (SFR) dan Michael Zeboth Melki Sedek Boas Purnomo (MCL). MCL diringkus di daerah sekitar Stasiun Pasar Turi Surabaya, sedangkan SFR dibekuk di hotel bilangan Tegalsari Surabaya. Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta mengatakan, dalam menjalankan aksinya dua tersangka ini membuat website palsu yang menyerupai laman resmi milik pemerintah AS.

Alamat website tersebut lalu disebarkan secara acak oleh tersangka SFR dengan menggunakan SMS (Short Massage Service) blast. Sasarannya, adalah warga negara Amerika Serikat.

“Yang membuat scam page MCL, kemudian disebarkan oleh SFR menggunakan aplikasi semacam SMS blast menyebar ke 20 juta nomor telepon warga negara AS,” ungkap Nico, saat konferensi pers di Gedung Rupatama Mapolda Jatim, Kamis (15/4/2021).
Nico mengungkapkan, dari jutaan SMS yang dikirim, ada 3.000 warga USA kemudian tertipu. Mereka percaya, lalu mengklik tautan dalam SMS yang dikirimkan tersangka.

“Dari situlah, warga yang tertipu akan mengisi sejumlah data yang ada dalam website. Data itu, selanjutnya disalahgunakan oleh tersangka untuk mencairkan dana bantuan Covid-19 untuk warga negara Amerika,” ujarnya.

Untuk satu data warga saja, pemerintah Amerika menggelontorkan dana sebesar USD 2.000 atau setara Rp 29,2 juta. Dugaan muncul selama aksinya, tersangka telah berhasil mencuri sebanyak 30 ribu orang warga dari 14 negara bagian Amerika. Dana itu sendiri merupakan Pandemic Unemployment Assistance (PUA) yang dialokasikan pemerintah AS kepada warganya yang terdampak pandemi Covid-19. Nico menyebut total kerugiannya mencapai USD 60 juta.

“Sebanyak 30 ribu warga AS tertipu, total kerugian pemerintah AS mencapai 60 juta USD,” kata Nico.

Ia juga menjelaskan, oleh kedua tersangka ini uang hasil penipuan itu digunakan untuk membeli berbagai peralatan yang lebih canggih.

“Uangnya dipakai beli alat lagi oleh tersangka. Satu tersangka berlatar belakang pernah kuliah IT di salah satu universitas, sedangkan satu tersangka lainnya belajar otodidak,” paparnya.

Dirinya menambahkan, kasus ini terungkap berkat kerjasama antara Ditreskrimsus Polda Jatim, Hubinter Mabes Polri dan FBI (Federal Bureau of Investigation) Amerika. Selain menangkap tersangka, polisi mengamankan sejumlah barang bukti.

“Ada laptop, handphone hingga beberapa kartu ATM milik pelaku,” pungkas Nico.

Kedua tersangka kini dipersangkakan melanggar pasal 35 Jo Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP dan Pasal 32 ayat (2) Jo Pasal 48 ayat (2) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here