Liberika Kayong Utara Siap Taklukkan Penikmat Kopi Dunia

0
4

Melanjutkan kunjungan kerjanya di Kayong Utara, kali ini Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat, dr. Harisson, M.Kes., bersama Penjabat (Pj) Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Kalbar, Ny. Windy Prihastari, S.STP., M.Si., menyerahkan program sosial Bank Indonesia pengembangan Kopi Liberika Kayong Utara kepada kelompok tani Cahaya Kayong Seponti di Desa Podorukun Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Minggu (14/1/2024).

Kayong Utara, Kalbar // Tak hanya itu, Pj. Gubernur bersama Pj. Ketua TP-PKK Kalbar melihat rumah produksi kopi liberika dan melihat secara langsung proses pengolahan biji kopi kebanggaan Kayong Utara.

“Jangankan masyarakat Kayong, kami saja sangat bangga kopi Liberika Kayong Utara ini bisa mendunia. Kami juga bangga dengan ketekunan dan keseriusan dari kelompok tani Podorukun ini yang telah mengembangkan kopi liberika ini. Ini juga yang selalu digaungkan Gubernur sebelumnya, Pak Sutarmidji. Dengan tamu-tamu yang datang, beliau selalu membanggakan kopi ini tidak hanya dengan berbagai macam khasiatnya, tapi juga karena sudah memperoleh ranking 1 di level dunia,” ucap Harisson.

Dirinya juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang intens memberikan bantuan dan bimbingan dalam pengembangan Kopi Liberika Kayong Utara ini.
“Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia yang terus membina kelompok tani Podorukun ini. Yang sulit itu pemasaran, ini yang kita patut acungi jempol, BI bisa melakukan business matching. Bayangkan kita bisa memperoleh buyer dengan kebutuhan 2 ton per bulan. Memang jd PR berikutnya, kita harus menambah produktivitas,” tambahnya.

Umumnya banyak orang hanya mengenal dua jenis biji kopi yaitu arabika dan robusta. Kedua jenis itu lebih mudah ditemui di kafe atau sudut pusat perbelanjaan. Hal inilah yang melecut semangat bersama untuk memajukan kopi Liberika Kayong Utara.

“Penting bagi kita untuk berpihak kepada masyarakat, khususnya UMKM-UMKM yang ada. Kedepannya, harus serius kita pasarkan. Di Pontianak saja beberapa warung kopi (coffee shop) besar masih mengimpor kopi dari Lampung. Kan sayang, kita ada potensi. Tapi merubah habbit penikmat kopi tak mudah, namun saya optimis pasti bisa. Harus perlahan-lahan. Apalagi sekarang banyak anak-anak muda yang suka ngopi, kadang mereka melihat pengemasannya, juga tempatnya. Nah itu yang harus kita buat, kemasan menarik serta fasilitas mengopi yang memiliki daya tarik, harus ada wifi dan lainnya,” harap Harisson.

Kemudian, Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar, N.A. Anggini Sari, yang turut hadir pada acara tersebut menyebutkan bahwa Kopi Liberika Kayong Utara ini memiliki potensi ekonomi yang besar kedepannya.

“Alhamdulillah hari ini hadir saat ini menjawab hal tersebut, ini untuk mengingatkan kembali perjanjian kita bersama buyer di luar negeri tersebut. Kami hari ini juga memberikan bantuan pasca panen kepada pelaku usaha berupa mesin roasting, karung goni standar ekspor, perluasan rumah kopi menjadi 6 x 16 meter. Dengan total semua bantuan ini di atas 300 juta,” ungkapnya.

Ia menjelaskan awal mula pendampingan Kopi Liberika Kayong Utara ini adalah ketika bertemu dengan owner dari pengolahan Kopi Liberika ini, yaitu Pak Iwan.

“Berawal pada tahun 2020 pada saat itu kami bertemu pak iwan, selalu pengembang usaha Kopi Liberika ini. Kemudian kami kami mengambil langkah untuk memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada para petani juga bantuan sarana dan prasarana penunjang hingga gudang. Kami juga menandatangani MoU dengan buyer dari luar negeri (Cina) berupa ekspor berupa Kopi Liberika Kayong Utara sebanyak 2 ton. Tentunya perlu dukungan semua pihak untuk tetap bertahan di level ini,” ucap Anggini.

Oleh karenanya ia berharap, pengembangan Kopi Liberika Kayong Utara ini terus dilakukan, selain untuk meningkatkan kapasitas produksi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya pada kopi tersebut.

“Kita telah melihat outcomenya. Peningkatan kualitas dan peningkatan permintaan pasar berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani. Harga awalnya hanya 24 ribu per kg kini diatas 50 ribu. Kapasitas produksi yang awalnya hanya 1000 kg per bulan kini menjadi 1.500 – 2.000 kg per bulan. Luas lahan awalnya 22 ha kini sudah mencapai 41 hektar. Jumlah anggota yang mulanya hanya 14 KK kini menjadi 22 KK, paving score kualitas green bean dari 65 menjadi 83. Mari bersama kita berikan dukungan kepada mereka. Dengan dukungan semua pihak diharapkan dapat mengingatkan lagi kuantitas dan kualitas pasca panen menjadi 1,6 – 2,7 ton green bean per bulan, Dengan 40 persen atau 1 ton grade A untuk kebutuhan ekspor,” harapnya.

Di tempat yang sama, Pj. Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi semua pihak yang telah bersama membantu pengembangan Kopi Liberika Kayong Utara ini.

“Kopi ini memenangkan kopi tingkat dunia dari 15 peserta. Terimakasih atas kepeduliannya khususnya juga Bank Indonesia. Ini mencerminkan komitmen kita bersama petani, dalam mengembagnkan UMKM yang ada di wilayah kita dan menjadikan langkah positif menuju pembangunan berkelanjutan. Semoga dengan program ini, bukti dukungan kita kepada mereka (petani) agar dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka,” tuturnya. (Abdullah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here