Beranda Daerah Masjid Tua Patimburak, Jejak Sejarah Islam Di Papua Yang Pernah Diterjang Bom...

Masjid Tua Patimburak, Jejak Sejarah Islam Di Papua Yang Pernah Diterjang Bom Jepang

71
0
Foto: Masjid Tua Al Yasin Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Papua Barat

Masjid Tua Al Yasin Patimburak terletak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Masjid berusia 174 tahun itu merupakan masjid tertua di Fakfak dan aset sejarah Islam di tanah Papua.

Masjid Al Yasin dibangun oleh Raja Wertuar pertama yang bernama Pamempek Kuda di Kampung Patimburak pada 1870 Masehi. Karena keberadaan Masjid Tua Patimburak itu maka Fakfak pun dijuluki sebagai Serambi Makah-nya Papua. Selain untuk kemaslahatan umat, Masjid Tua Al Yasin juga salah satu pusat Islam di Papua.

Untuk mencapai masjid tersebut, sebelumnya harus menempuh perjalanan darat dari Fakfak ke Kokas. Tersedia angkutan luar kota dari terminal Kota Fakfak. Selama 2 jam, Anda akan menyusur jalan berkelok dan segarnya udara pegunungan.

Tiba di kota kokas, perjalanan menuju Kampung Patimburak harus dilanjutkan menggunakan longboat sewaan. Jika menggunakan longboat, pengunjung yang ingin menuju Masjid Tua Patimburak bisa menikmati keindahan pulau-pulau karang yang masih perawan di sepanjang perjalanan di pesisir pantai dan laut dari Kokas menuju Kampung Patimburak. Masjid Al Yasin masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga saat ini dengan seorang imam bernama Ismail Kuda.

Pada masa penjajahan, masjid ini bahkan pernah diterjang bom tentara Jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid.

Penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad XV, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk Islam. Sejak itulah, sedikit demi sedikit Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Fakfak yang di mulai dari Kampung Patimburak, Distrik Kokas.

Kondisi Masjid Tua Al Yasin saat ini sudah mulai rusak, empat tiang pilarnya kakbah sudah dalam keadaan miring ke belakang, tiang tiang pada dinding bangunan ini pun sudah rusak dan keropos. Namun, keasliannya masih terlihat dengan alami, sebab semua masih asli kecuali atap seng yang sudah pernah diganti pada saat rehab tahun 2003.

Bak air tempat wudu pun telah rusak, sekarang mengunakan profil tank untuk menampung air wudu. Sumber air pun kini hanya mengharapakan dari hujan saja.

Aura tradisional muncul saat menyambangi lokasi masjid tua ini. Di kampung yang dihuni tak lebih dari 435 kepala keluarga tersebut didapati kesederhanaan yang menyatu dari bangunan masjid dan kehidupan masyarakatnya.

Sekilas bangunan masjid seluas tidak lebih dari 100 meter persegi ini tampak biasa. Namun, masjid ini memiliki keunikan pada arsitekturnya, yaitu perpaduan bentuk masjid dan gereja.

Jaelani Kuda, pemegan estafet sejarah Masjid Al Yasin Patimburak mengaku, bangunan masjid ini pernah direnovasi bagian rangka atap dan atap seng serta halaman dan pagar sedangkan yang lain belum meski mempertahankan bentuk aslinya, namun material asli yang belum diganti adalah empat buah pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid.

Di pelataran masjid, sebuah pohon mangga kokoh berdiri. Namun, bukan sembarang pohon mangga. Dari ukuran batangnya, bisa dipastikan usia pohon raksasa ini tak terpaut jauh dengan usia masjid.

Syahdan, perlu empat rentang tangan orang dewasa untuk merengkuh keseluruhan batang pohon ini.

Di depan masjid terdapat sebuah makam adalah Raja Petuanan Wertuar yang pertama yang bernama Pamempek Kuda. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here