Beranda Hukum Nodai Siswi SMP, Putra Anggota DPRD Niat Menikahi Ditolak Ayah Korban

Nodai Siswi SMP, Putra Anggota DPRD Niat Menikahi Ditolak Ayah Korban

26
0

Bekasi, Jabar

Anak anggota DPRD yang menodai siswi SMP berniat menikahi korban. Namun niat menikahi korban ternyata ditolak mentah-mentah ayah korban yang mengaku tak sudi.

Amri Tanjung alias AT (21) adalah anak anggota DPRD yang kini menjadi tersangka. Tak cuma menodai PU (15), pelaku diduga menyekap dan menjual korban lewat aplikasi MiChat.

Kuasa hukum AT, Bambang Sunaryo mengatakan, pihaknya tidak akan menarik niat tersebut dan tidak masalah telah ditolak pihak korban.

“Niat untuk tetap menikah tidak pernah diurungkan, tetap walaupun enggak mau niat itu enggak akan ditarik. Enggak apa-apa silakan, itu hak mereka (menolak) tapi yang kita tawarkan enggak pernah ditarik,” kata Bambang, Sabtu (29/5/2021).

Bambang menegaskan, niat AT menikahi PU bukan semata-mata bertujuan meringankan hukuman atau semacamnya.

“Proses hukum tetap berjalan, menikah atau tidak proses hukum tetap berjalan jadi enggak ada begitu niat dinikahi terus proses hukum berhenti tidak begitu gak mungkin terjadi,” jelas Bambang.

Pilihan untuk tidak mengurungkan niat menikahi korban, kata Bambang, bisa jadi saat ini ditolak tetapi dikemudian hari dapat berubah.

“Enggak apa-apa, niat sudah disampaikan sekarang mungkin nanti ada perubahan di kemudian hari kan gak apa-apa,” tegasnya.
Ditanya soal kondisi AT, menurut Bambang, kliennya saat ini dalam keadaan sehat dalam sel tahanan Polres Metro Bekasi Kota.

Pihaknya secara rutin memantau perkembangan penyidik di kepolisian dan berharap, penanganan kasus dapat berjalan sesuai koridor hukum.

“Kondisi AT baik, sehat-sehat saja, komunikasi sama keluarga berjalan bahkan saya sendiri hampir dua hari sekali menjenguk AT di polres mengikuti perkembangan penyidikannya,” ungkapnya.

Diketahui, D (43), ayah korban PU secara tegas menolak niat dari tersangka untuk menikahkan anaknya.

“Wacana nikah adalah hal yang enggak masuk akal. Saya menolak dengan tegas apa pun tawaran seperti itu,” kata D di Mapolres Metro Bekasi Kota, Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, Jumat (28/5/2021).

D mengaku, anaknya saat ini masih perlu pendampingan secara psikis. Masa depannya untuk melanjutkan pendidikan masih harus dijaga bukan malah dinikahkan.

“Sudah jelas syarat perkawinan seperti apa, bahasa yang harusnya menyejukkan situasi malah bikin suasana baru menjadi simpang siur. Saya sebagai orangtua korban menolak dengan tegas,” tegasnya.

Dia mengaku, tidak sudi anaknya menikah dengan AT. Bahkan, jika harus menanggung dosa atas persetubuhan yang dilakukan buahnya hatinya, dia siap menanggung.

“Saya lebih baik menanggung dosa anak dibanding harus menikahkan anak saya dengan pelaku,” kata D.

Dia menjelaskan, jika pernikahkan AT dengan PU sampai terjadi, hal itu sama saja menjerumuskan anaknya ke lubang hitam yang lebih pekat.

Sebab, tindakan AT yang sudah jelas-jelas melakukan persetubuhan anak di bawah umur sangat tidak bisa ditolerir.

“Dari segi akhlak dan moral nggak bisa ditoleransi,” tegasnya.

Ayah tiga orang anak ini bahkan berandai-andai, kalaupun PU sudah berusia dewasa saat ini, niat menikahkan anaknya dengan tersangka tetap akan ditolak mentah-mentah.

“Saya enggak akan sudi, karena kalau saya menikahkan korban dengan pelaku tidak akan baik bagi kehidupan anak saya, dia kemungkinan akan tersiksa,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, anak anggota DPRD Kota Bekasi berinisial AT merupakan tersangka kasus persetubuhan yang dilakukan terhadap ABG berinisial PU (15).

AT berhasil ditangkap setelah pihak keluarga dan kuasa hukum menyerahkan tersangka, dia kabur dijemput di daerah Bandung, Jawa Barat.

Kuasa Hukum tersangka, Bambang Sunaryo mengatakan, AT diserahkan ke pihak kepolisian pada Jumat (21/5/2021) dini hari sekira pukul 04.00 WIB.

Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Pol. Aloysius Suprijadi mengatakan, AT dijerat pasal tindak pidana persetubuhan di bawah umur pasal 81 ayat 2 juncto 76 D, undang-undang Nomor 17 Tahun 2016.

“Terhadap perbuatan pelaku diancam hukuman pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar,” kata Aloysius, Jumat (21/5/2021).

Aloysius menjelaskan, tersangka AT ditangkap setelah orangtuanya bersama kuasa hukum menyerahkan tersangka yang sempat kabur ke sejumlah daerah.

“Jadi pada saat dilaporkan ke polisi, yang bersangkutan melarikan diri ke Cilacap, lalu ke Bandung, semalam akhirnya menyerahkan diri (diantar orangtua),” jelasnya.

Perbuatan persetubuhan dilakukan AT terhadap PU sudah terjadi berkali-kali. Keduanya menjalin hubungan asmara selama sembilan bulan.

“Sudah berkali-kali, hubungannya sudah sembilan bulan, menurut pengakuan korban mereka berpacaran,” jelasnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here