Beranda Daerah Pembagian Dana Rekorsing Di Puskesmas Payung Diduga Sarat Rekayasa

Pembagian Dana Rekorsing Di Puskesmas Payung Diduga Sarat Rekayasa

102
0

Tanah Karo, Sumut

Pembagian dana rekorsing atau uang lelah untuk petugas yang menangani pasien Covid-19 di Puskesmas Payung Kecamatan Payung, Kabupaten Karo disebut-sebut penuh dengan rekayasa, sehingga menimbulkan semacam kecemburuan diantara petugas. Dari beberapa orang tenaga medis di Puskesmas tersebut yang namanya tidak mau disebutkan, diperoleh informasi bahwa penerima uang lelah tersebut ditentukan sesuai kebijakakan Kepala Puskesmas Payung.

Hal itulah yang menimbulkan masalah, pasalnya ada beberapa orang petugas yang merasa berhak menerimanya tidak dapat bagian, sementara ada pula beberapa orang yang tidak puas karena menerima lebih kecil dari yang lain, padahal mereka sama-sama bekerja setiap harinya.

Kepala Puskesmas Payung, dr. Florencia Glosinia, ketika dikonfirmasi wartawan Bu, Senin (1/2/2021) di kantornya mengatakan, pembagian uang lelah tersebut diberikan berdasarkan keaktifan petugas sesuai data finger print yang ada. “Petugas kesehatan yang menerima uang lelah tersebut terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga non medis, baik ASN maupun non ASN, yang dibagikan tiga bulan perperiode, Mei, Juni, Juli,” ujar dr. Florensia.

Dikatakan, karena penerima berdasarkan keaktifan sesuai data finger print yang ada maka penerimaan juga berbeda satu sama lain. Ada yang hanya menerima Rp 480 ribu perperiode, karena dalam waktu 3 bulan itu dia hanya ada 4 kali pinjer. Ketika ditanya adanya keluhan seorang petugas yang mengaku tidak pernah menerima uang lelah walau namanya ada dalam surat keputusan(SK) petugas penanganan Covid-19, dr. florencia mengatakan, hal itu terjadi karena yang bersangkutan tidak penuh jaga dan sering tidak finger print.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, dr. Irma Milala, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya terkait keluhan dokter di Puskesmas Payung yang mengaku tidak ada menerima uang lelah mengatakan, bahwa uang lelah tersebut hanya diberikan kepada petugas yang bekerja diluar jam dinas.

“Tenaga medis yang bekerja sesuai jam dinas, tidak berhak menerima intensif tersebut,” katanya. (Percaya Sembiring)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here