Beranda Daerah Pimpin Gugus Tugas Ke Perbatasan, Bupati Sintang Beri Pemahaman Tentang Rapid Tes

Pimpin Gugus Tugas Ke Perbatasan, Bupati Sintang Beri Pemahaman Tentang Rapid Tes

60
0

Bupati Sintang Jarot Winarno selaku Ketua Gugus Tugas Covid-19, memimpin kunjungan kerja Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Sintang dalam rangka memberikan arahan upaya percepatan pencegahan dan penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19,red) dibatas negeri di Kecamatan Ketungau Hulu dan juga sekaligus sosialisasi terkait menghadapi/menuju new normal atau normal baru.

Kalau orang yang sudah dinyatakan terpapar corona, kalau dia diisolasi dan diobati dikasih vitamin serta lainnya, pada hari ke-12 dia sudah tidak menularkan lagi. Jadi tidak perlu juga takut dengan Corona, karena kalau ada yang terpapar cepat diambil tindakan melalui isolasi dan perawatan pengobatan. -Bupati SIntang, Jarot Winarno-

Sintang, Kalbar | Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Rapat Batas Negeri, Desa Sungai Pisau, Kec. Ketungau Hulu yang diikuti unsur Forkopimcam Ketungau Hulu, Satgas Pamtas, Kepala Desa dan BPD di Kec. Ketungau Hulu, tokoh adat serta tokoh masyarakat di Kecamatan Ketungau Hulu, Jumat (29/5/2020).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sintang Jarot Winarno memberikan arahan atau pemahaman terkait Covid-19 kepada Kepala Desa, BPD, tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat yang nantinya bisa disampaikan kepada masyarakat agar dalam menyikapi informasi terkait covid-19 tidak terlalu panik, terlebih jika mendegar ada warga yang berdasarkan rapid test itu hasilnya reaktif sehingga sering munculnya stigma negatif ditengah-tengah masyarakat.

Dikatakan Jarot bahwa, Rapid test itu dilakukan, apabila warga tersebut diduga ada kontak dengan orang yang sudah terpapar Covid-19. Jadi rapid test pun bukan juga untuk menentukan apakah warga tersebut terpapar Covid-19 atau tidak.

“Tapi kita mau tau di dalam badan dia, sudah ada antibody belum, atau antibody itu ibaratnya polisi yang jaga badan dia, corona itu ibarat penjahat. Jadi kalau ada kuman masuk dalam badan kita, otomatis tubuh kita membuat antibody, nah kalau mau menentukan mau tau orang tersebut terpapar corona atau belum harus diambil swab tenggorokan yang kita kirim ke Jakarta atau Pontianak melalui PCR,” jelas Jarot.

Sehingga lanjut Jarot, sambil menunggu hasil swab tenggorokan tersebut, orang yang berdasarkan rapid test hasilnya reaktif dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari, bahkan bisa lebih, karena menunggu hasil swab tenggokokan itu biasanya cukup lama sampai tiga minggu.

“Sambil nunggu kepastian apakah terkena corona atau tidak, kita isolasilah selama 14 hari. Kenapa harus 14? karena kalau orang dalam badannya masuk kuman corona, mau tau dia timbul penyakit atau ndak kita tunggu dua minggu, kalau dua minggu penyakitnya ndak ada udah sembuh dia, apalagi kalau swab tenggorokan hasilnya negatif bisa balek,” kata Jarot.

Kemudian kata Jarot, kalau orang yang sudah dinyatakan terpapar corona, kalau dia diisolasi dan diobati dikasih vitamin serta lainnya, pada hari ke-12 dia sudah tidak menularkan lagi. Jadi tidak perlu juga takut dengan Corona, karena kalau ada yang terpapar cepat diambil tindakan melalui isolasi dan perawatan pengobatan.

“Saya kabarkan dengan kita  semua, kalau orang itu ketahuan udah corona, kalau dia diobati, di isolasi dikasih vitamin dan sebagainya pada hari ke-12, dia sudah tidak menularkan lagi ya, jadi jangan takut juga dengan corona, karena cepat kita isolasi, kita sembuhkan. Jadi kalau ada warga kita yang kena corona, sudah diobati segala, kalau dia pulang, jangan lalu di usir-usir. Apa lagi kalau ada yang rapid test reaktif, udah macam-macam di stigma tu, itu yang perlu saya sampaikan agar masyarakat ndak terlalu takut,” terang Jarot.

Jarot pun menilai apa yang sudah dilakukan di Kecamatan Ketungau Hulu ini sudah cukup bagus, karena masyarakat secara ketat menjaga desa atau kampungnya masing-masing. Ia pun meminta jika ada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pulang dari Malaysia melalui perbatasan Ketungau Hulu, tim gugus tugas setempat segera membawanya ke sintang untuk di lakukan penanganan sesuai protokol kesehatan covid-19.

“Kalau ada yang pulang dari Malaysia lewat perbatasan kita di sini, saya minta segera bawa ke Sintang untuk ditangani, saya sudah standby kan mobil satu disini untuk gugus tugas kecamatan, tibanya di Sintang nanti, karena dia dari daerah yang sudah ada corona, kita rapid test kalau hasilnya reaktif kita langsung isolasi di Sintang, kalau hasilnya non reaktif, kita pulangkan ke tempat asalnya,” ujar Jarot.

Sementara itu, Camat Ketungau Hulu, Jamhur menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati dan rombongan yang sudah melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Ketungau Hulu. Jamhur pun melaporkan bawah bantuan bagi warga yang terdampak covid-19 di wilayah kerjanya, baik itu dari Pemrov Kalbar maupun Pemda Sintang terutama bantuan beras provinsi sudah di salurkan semua seusai ketentuan yang sudah di tetapkan. Meskipun di temukan sejumlah kendala, namun hal itu ungkap Jamhur bisa dan sudah diatasi sehingga semuanya berjalan dengan baik.

“Selanjunya Bantuan Sosial Tunai (BST), sempat ada kendala dalam penyalurannya, tapi sudah diatasi melalui unsur Forkopimcam, karena BST itu ada tiga lembaga yang menanganinya yakni Kantor Pos, BNI dan BRI. Nah kesulitanya kita disini karena tidak ada kantor BNI dan BRI, rupanya dana itu sudah masuk ke rekening mereka pada bulan Maret kemarin, jadi ketidaktahuan mereka, jadi mereka protes dengan kita bahwa mereka belum dapat, tapi sudah di jelaskan bahwa sudah masuk ke rekening mereka masing-masing, jadi sudah tidak ada kendala lagi,” terang Jamhur.

Selain itu, untuk bantuan lainnya yang bersumber dari APBN melalui Dana Desa, lanjut Jamhur, ada BLT dan BLT DD, untuk di Kecamatan Ketungau Hulu ini tahap pertama baru 3 desa yang sudah melaksanakan, yakni Desa Engkeruk, Desa Sebadak dan Desa Sungai Seria.

“Saya berharap kepada Kades lain sesegera mungkin, karena kemarin ada Surat Edaran Menteri Desa, sebenarnya pada 24 Mei kemarin sudah harus segera menyalurkan. Belum disalurkan bukan karena Kadesnya ndak mau menyalurkan, tapi karena keterlambatan informasi sebelumnya, informasi mereka dengan saya dulu, mereka melakukkan belanja modal dulu, baru ada informasi pembayaran BLT,” jelas Jamhur.

Untuk tahap kedua kata Jamhur, sudah di salurkan ke rekening desa, tanpa pengajuan dari pemerintah desa, untuk itulah Jamhur meminta para Kepala Desa sesegra mungkin menarik anggarannya kemudian disalurkan sesuai dengan berita acara Musyawarah Desa (Musdes,red) lalu di SK kan dengan peraturan kepala desa.

“Dan nanti kami akan tetap beri SK pengesahan, ketika kami beri SK pengesahan, tolong berita acara dan SK peraturan kepala desa itu disinkronkan, atau di cek kembali,” ujar Jamhur.

Jamhur juga menyampaikan, kondisi dan situasi dalam rangka penanganan dan pecegahan covid-19 di Kecamatan Ketungau Hulu kondusif. (Abdullah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here