Beranda Polda Polda Metro Surati Mabes Polri, Minta Polisi yang Marahi Korban Pencurian Dimutasi...

Polda Metro Surati Mabes Polri, Minta Polisi yang Marahi Korban Pencurian Dimutasi Ke Luar Wilayah

25
0

Jakarta

Polda Metro Jaya segera mengirimkan surat rekomendasi kepada Mabes Polri untuk memindahtugaskan Aipda Rudi Panjaitan ke luar daerah Polda Metro.

Hal itu dilakukan setelah anggota Polsek Pulogadung itu dinyatakan bersalah dalam sidang etik profesi Polri yang digelar Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya, Jumat (17/12/2021).

“Tentunya dalam hal ini nanti Polda Metro Jaya akan memberikan rekomendasi dan usulan kepada Mabes Polri terkait pemindahan yang bersangkutan ke daerah berbeda, yang bersifat demosi,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Endra Zulpan kepada wartawan, Jumat malam.

Dalam sidang tersebut, kata Zulpan, Rudi dinyatakan bersalah dan melanggar Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011, karena tidak menanggapi serius laporan korban pencurian di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

“Putusan pada sidang yang telah dijalankan dan dilaksanakan tadi, yaitu menetapkan Aipda Rudi Panjaitan terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011,” ungkap Zulpan.

Propam Polda Metro Jaya pun menjatuhkan sanksi etik dan administratif terhadap Rudi atas perbuatannya yang tidak menanggapi serius laporan korban pencurian.

“Menjatuhkan sanksi etika dan sanksi administratif, dan akan dipindahtugaskan ke wilayah yang berbeda yang bersifat demosi,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang wanita bernama Meta Kumala (32) menjadi korban pencurian di Jalan Sunan Sedayu, Rawamangun, Selasa (7/12/2021) lalu.

Ia kehilangan tas yang berisi kartu ATM, KTP, kartu kredit, hingga kunci mobil. Selain itu, uangnya senilai Rp 7 juta ikut raib. Pada malam itu juga, Meta melaporkan bahwa dirinya menjadi korban pencurian. Ia melapor ke Polsek Pulogadung.

Ia mengaku kehilangan uang senilai Rp 7 juta dan beberapa kartu yang ditaruh di dalam tasnya.

“Saya nyebutlah ada lima kartu ATM (yang hilang). Terus salah satu polisi itu berucap, enggak enak nadanya,” ujar Meta.

“Dia bilang, ‘Ngapain sih Ibu punya ATM banyak-banyak? Kalau gini kan jadi repot. Percuma kalau dicari juga pelakunya. Memang Ibu enggak tahu adminnya itu mahal?’,” ucap Meta menirukan omongan polisi tersebut.

Meta pun kecewa. Ia sedang susah, tetapi malah kena omel polisi. Ia juga menyayangkan ucapan yang keluar dari polisi itu.

“Bukan sesuatu yang penting dan enggak banget disampaikan oleh polisi, dan saya langsung sudah ilfeel (hilang feeling) lah istilahnya. Ini polisi gimana sih enggak ada iba, enggak ada simpati,” kata Meta.

“Caranya menyampaikan enggak pas ya, karena saya sedang kesusahan. Terus kenapa bahas ATM banyak? Adminnya mahal?” tutur dia.

Di Mapolsek Pulogadung, Meta ditanya nama lengkap, tanggal lahir, dan barang-barang yang hilang. Namun, setelah itu, polisi tidak memberi tahu kepada Meta soal prosedur selanjutnya.

“Saya cuma nulis nama, tanggal lahir, apa aja yang hilang. Udah, selesai. Setelah itu udah, jadi tidak ada tindak lanjut prosedurnya apa setelah saya dirampok gitu,” ujar dia.

Meta kemudian disuruh pulang untuk menenangkan diri.

“Dia bilang, ‘Sudah, Ibu mendingan pulang saja dan tenangin diri’,” kata Meta menirukan omongan polisi itu.

“Dalam hati saya, Pak, kalau gampang mah anak SD saya minta tolong bantu nyari. Saya enggak habis pikir, makanya saya kecewa banget. Kasus saya enggak ditangani, malah saya diomelin,” imbuh Meta. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here