Beranda Daerah Polemik Jual Beli Lahan Relokasi Gunung Sinabung, 2 Kades Bantah Keterangan Penyedia...

Polemik Jual Beli Lahan Relokasi Gunung Sinabung, 2 Kades Bantah Keterangan Penyedia Lahan

135
0

Tanah Karo, Sumut

Terkait polemik jual beli lahan relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung, Kepala Desa (Kades) Berastepu, Gemuk Sitepu dan Kades Gamber, Thomas Sitepu, yang ditemui secara terpisah, Kamis (3/6/2021), membantah keterangan penyedia lahan relokasi tahap 2 Lau Mangir, Desa Surbakti, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Kristina Natalia Surbakti, yang mengatakan lahan hijau pinggir jurang bukan milik warga penghuni relokasi Lau Mangir.

Menurut kedua kades tersebut, lahan terbuka hijau selebar 15 meter persegi dari bibir jurang adalah milik penghuni relokasi Lau Mangir. “Lahan hijau terbuka itu bukan milik pengembang atau penyedia lahan relokasi Lau Mangir, tapi bagian dari kawasan relokasi yang telah diserahkan kepada warga penghuni sejak awal,” ujar mereka senada.

Kades Berastepu, Gemuk Sitepu mengatakan, dia pernah mengingatkan oknum EG agar tidak membeli lahan hijau terbuka di relokasi Lau Mangir, karena lahan itu tidak akan diperjualbelikan. “Kalau benar lahan hijau itu telah diperjual belikan, saya atas nama warga akan melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib,” ujar Gemuk Sitepu.

Kades Surbakti, Bahtra Ginting, ketika menjawab pertanyaan Kades Berastepu, Gemuk Sitepu mengatakan, tidak ada menandatangani surat jual beli lahan di relokasi Lau Mangir. “Kalau ada masalah lebih jauh, saya mendukung warga sepenuhnya,” kata Bahtra Ginting meyakinkan.
Relokasi tahap 2 Lau Mangir berada di wilayah Desa Surbakti, sementara warga penghuninya adalah pengungsi erupsi Gunung Sinabung dari Desa Berastepu dan Desa Gamber.

Kepala BPBD Karo, Juspri M Nadeak, maupun Kabid Rehabilitas dan Rekonstruksi, Nius Ginting, saat dikonfirmasi awak media Bhayangkara Utama, ternyata lagi berada di Jakarta dalam rangka urusan dinas sehingga belum dapat dimintai keterangan.

Dinikmati Warga

Sebelumnya dikabarkan, lahan yang diperuntukkan guna fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) di relokasi tahap 2 pengungsi erupsi Gunung Sinabung Lau Mangir di Desa Surbakti, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, telah disediakan dengan sepenuhnya dan telah dinikmati warga.

Hal tersebut dikatakan Kristina Natalia Surbakti selaku penyedia lahan relokasi tahap 2 di Lau Mangir kepada wartawan saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler (31/5/2021). Dikatakannya, 30 % lahan peruntukan fasum dan fasos tersebut telah dimanfaatkan sesuai fungsinya, seperti pembangunan kantor Kepala Desa, Sekolah Taman Kanak-kanak, sarana jalan umum dan 3 titik penampungan pembuangan limbah.

“Lahan kosong selebar 15 meter persegi di pinggir jurang tidak termasuk areal relokasi, karena tidak layak dijadikan rumah hunian. Semua kegiatan pembangunan di areal relokasi Lau Mangir harus berdasarkan musyawarah dan persetujuan Rekompak pendamping dan BPD setempat, jadi tidak mungkin pengembang berbuat semena-mena,” ujarnya.

Terkait adanya rumor yang menyebutkan terjadinya transaksi lahan terbuka hijau di relokasi Lau Mangir, ia langsung membantah dan mengatakan tidak benar. “Mungkin warga penghuni relokasi Lau Mangir salah pengertian tentang fasum dan fasos, sehingga ada dugaan pihak pengembang memperjualbelikan lahan hijau yang terdapat di pinggir jurang,” ujarnya menjelaskan. (Percaya Sembiring)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here