Beranda Bhayangkara Polres Halmahera Utara Rilis Kasus Persetubuhan Anak Dibawah Umur

Polres Halmahera Utara Rilis Kasus Persetubuhan Anak Dibawah Umur

88
0
Selamat Hari Jadi Kabupaten Sukabumi Yang Ke -151

Tobelo, Halut

Kepolisian Resort Halmahera Utara melalui KBO Satreskrim, resmi merilis kasus dugaan persetubuhan anak dibawa umur yang melibatkan kerabat dekat korban, diantaranya ayah kandung, kakek kandung, dan paman.

Rilis tersebut disampaikan langsung oleh Kaur Bin Ops, Ipda Muhammad Kurniawan, Kanit PPA, Bripka Yuwinda Sonoto dan Kasubag Humas, AKP Mansur Basing, yang dilaksanakan pada Kamis (04/02/2021).

Kaur Bin Ops, Ipda Muhammad Kurniawan menerangkan, bahwa sesuai dengan kronologis kejadian, pada hari jumat (29/02/2021), datang melapor ke SPKT yang dilakukan YS (35), pekerjaan IRT, melaporkan telah terjadi dugaan kasus persetubuhan anak dibawah umur yang dialami korban berinisial DSK (16), yang merupakan anak pelapor, yang diduga dilakukan oleh AK alia A, OH alias O, dan AN alias A yang merupakan keluarga korban, ayah kandung, kakek kandung dan paman. 

Berdasarkan keterangan korban, peristiwa persetubuhan terjadi pertama kali dilakukan kakek korban berinial AN alias A, yang dilakukan di semak-semak sebanyak 2 kali pada tahun 2017 lalu, dengan cara memeluk dan memegang payudara dan mengancam korban dengan mengatakan, “Kalau opa bunuh kamu tidak ada yang tahu”. Kemudian pada saat itu korban  meronta dan berlari ke rumah kebun. Namun sekitar 1 minggu kemudian, di kebun yang sama tersangka AN alias A menarik korban lalu membuka celana korban dan memangku dan menyetubuhinya.

Sementara itu pada tahun 2020, menurut keterangan korban, paman korban berinisial OH alias O menggauli korban sebanyak 7 kali, terakhir dilakukan di bulan November. Pertama kali di bulan Oktober, korban dan tersangka berboncengan memakai motor dan tersangka membelokkan motor ke pantai, kemudian pelaku menarik korban ke pohon coklat dan menggaulinya. Sementara ayah korban yang berinisial AK alias A juga menggauli korban sebanyak 4 kali dari bulan Juli sampai Agustus. “Kondisi korban trauma dan hamil sekitar 4 bulan,” jelasnya.

Akibat perbuatan mereka, pasal yang disangkakan diantaranya pasal 81 ayat 1 dan ayat 3 dan atau pasal 82 ayat 1, ayat 2, Undang-Undang Perlindungan Anak, dengan ancaman sebanyak 5 – 15 tahun penjara. “Barang bukti diantaranya pakaian korban dan hasil visum,” jelasnya. (Roby Pangemanan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here