Beranda Nasional Setelah Munarman, Tiga Eks Petinggi FPI Kembali Dibekuk Densus 88

Setelah Munarman, Tiga Eks Petinggi FPI Kembali Dibekuk Densus 88

74
0
Selamat Hari Jadi Kabupaten Sukabumi Yang Ke -151

Makassar, Sulsel

Densus 88 kembali membekuk 3 petinggi eks FPI sekaligus setelah Munarman terlebih dahulu diamankan.

Densus 88 membekuk sejumlah terduga teroris yang sempat menjadi pengurus Front Pembela Islam (FPI).

Sebelumnya, polisi juga menangkap Sekum eks FPI, Munarman dengan tuduhan terkait terorisme. Munarman pun diduga terkait dengan Jamaah Ansharut Daulah yang terafiliasi dengan ISIS.

Tiga eks petinggi Front Pembela Islam (FPI) di Makassar, ditangkap oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol E Zulpan, saat dikonfirmasi, Rabu (5/5/2021) siang.

“Iya, ada tiga orang diamankan Densus. Mereka ini mantan petinggi FPI waktu belum dibubarkan,” ujar Kombes Pol E Zulpan.

Inisial ketiga orang itu kata Zulpan, AR, MU dan AF. Ketiganya diketahui dijemput Densus 88 di rumah masing-masing.

“Masing-masing ditangkap di rumah masing-masing,” katanya.

Penangkapan itu, kata dia, merupakan hasil dari penggeledahan di bekas Sekretariat FPI Jalan Sungai Limboto, Kecamatan Ujung Pandang, Makassar, Selasa kemarin.
Dalam penggeledahan itu, lanjut Zuplan, Tim Densus juga mengamankan sejumlah barang bukti.

“Jadi barang bukti yang diankan saat penggeledahan kemarin (bekas Markas FPI) itu ada empat box container (box plastik), tapi belum saya lihat apa-apa isinya,” kata Zulpan.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah atribut bekas markas atau sekretariat Front Pembela Islam (FPI) Kota Makassar, telah diamankan polisi.

Atribut itu diamankan setelah Tim Densus 88 menggeledah sekretariat yang berlokasi di Jl Sungai Limboto, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Selasa (4/5/2021) sore.

Pantauan di lokasi, atribut yang diamankan itu diantaranya seperti papan nama sekretariat berlogo FPI dan spanduk bekas. Barang yang diamankan itu pun diangkut mobil ranger Polsek Ujung Pandang.

Pasca digeledah Tim Densus 88, bekas sekretariat atau markas FPI itu juga dipasangi garis polisi.

Garis polisi pun terlihat mengelilingi seluruh bangunan sekretariat.

Pintu sekretariat juga terkunci rapat. Terlihat saat seorang pria hendak memasuki sekret. Pria itu berusaha membuka, namun tidak bisa lantaran terkunci.

Informasi yang diperoleh di lokasi, penggeledahan dilakukan mulai pukul 16.00 Wita hingga 17.20 Wita.

Munarman Bisa Bebas

Kepolisian RI telah menyatakan pihaknya bisa melepas mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman jika tidak bisa membuktikan tersangka terlibat dalam dugaan kasus tindak pidana terorisme.

“Penyidik Densus 88 memiliki waktu sebanyak 21 x 24 jam. Kalau 21 x 24 jam belum bisa membuktikan maka penyidik harus melepas,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Sabtu (1/5/2021).

Dijelaskan Ahmad, aturan itu termaktub dalam Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang nomor 5 Tahun 2018 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme.

“Berdasarkan pasal 28 ayat 1 bahwa penangkapan tersangka teroris itu 14 hari. Apabila dibutuhkan pasal 28 ayat 2 bisa diperpanjang 7 hari. Jadi ada 21 hari proses itu status itu masih ditangkap,” katanya.

Diketahui, Munarman ditangkap Densus 88 Polri di rumahnya di Perumahan Modernhills, Pamulang, Tangerang Selatan pada Selasa (27/4/2021) sekitar pukul 15.00 WIB.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan pun menyampaikan, Munarman diduga kuat terlibat dalam jaringan terorisme di tiga daerah sekaligus.

“Jadi terkait dengan kasus baiat di UIN Jakarta, kemudian juga kasus baiat di Makassar, dan mengikuti baiat di Medan. Jadi ada tiga tersebut,” ujar Ahmad di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (27/4/2021).

Untuk kasus baiat teroris di Makassar, kata dia, Munarman sendiri diduga terlibat di dalam baiat dengan ISIS.

“Baiat itu yang di Makassar itu yang ISIS. Kalau UIN Jakarta dan Medan belum diterima,” kata dia.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan aturan ini berbeda dengan penangkapan tersangka yang terlibat di dalam dugaan tindak pidana umum biasa.

“Itu bedanya dengan hukum acara pidana, hanya 1 hari atau 1 x 24 jam. Ketika tindak pidana umum setelah 1 x 24 jam tidak cukup bukti maka yang bersangkutan harus dilepas,” jelasnya.

Kendati demikian, Ahmad memastikan penyidik telah memiliki bukti permulaan yang cukup untuk menjerat Munarman dalam kasus ini.

“Tentu sudah memiliki bukti permulaan yang cukup. Sekali lagi penyidik tentunya professional. Berani melakukan penangkapan pasti memiliki bukti permulaan yang cukup,” pungkasnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here