Beranda Ekonomi Si Logam Mulia yang Tak Pernah Redup, Idaman Semua Wanita

Si Logam Mulia yang Tak Pernah Redup, Idaman Semua Wanita

33
0

Jakarta

Emas merupakan salah satu komoditas berharga yang ada di dunia. Saking berharganya, barang yang satu ini pun ikut diperdagangkan di seluruh dunia. Emas menjadi logam mulia yang banyak digandrungi, baik untuk mata uang hingga perhiasan.

Emas sudah menjadi simbol kekayaan dan kemewahan di hampir setiap budaya. Pertama kali emas sendiri ditemukan di sungai, dalam tanah dunia kuno dengan kondisi yang masih sangat alami. Meski tak diketahui jelas kapan pertama kali umat manusia menemukan emas, namun emas dipercaya sudah eksis ribuan tahun lamanya.

Pada tahun 40.000 SM, pecahan-pecahan emas ditemukan di gua-gua Spanyol. Di sekitaran tahun 3600 SM, emas sudah diolah melalui proses peleburan oleh para tukang emas Mesir.

Mengutip informasi dari Gold Price, penduduk Mesir tercatat dalam sejarah sebagai penakluk emas pertama di dunia. Penduduk Mesir diceritakan mempekerjakan tahanan perang dan budak untuk mendulang tambang emas primitif pada zaman mereka.

Menurut catatan sejarah, penduduk Mesir melakukan semua itu ketika harga emas belum memiliki nilai tukar resmi tetapi dicari hanya berdasarkan keinginan tinggi untuk menjadikan emas sebagai komoditas.

Di tahun 2600 sebelum masehi (SM), penduduk Mesopotamia kuno (kini menjadi Republik Irak) sudah menempa emas menjadi perhiasan. Kaum Mesopotamia ini dipercaya sebagai manusia yang pertama kali menggunakan emas sebagai perhiasan.

Lalu, di tahun 1223 SM, makam Tutankhamen yang ikonik atau peti mati Firaun dibuat dengan balutan emas. Lalu, pada tahun 950 SM, kuil pertama kaum Yahudi yakni Bait Salomo (kini dikenal sebagai Tembok Ratapan) dibangun dengan konstruksi berbahan dasar emas.

Dilansir dari Gold Price, koin emas dipercaya muncul pertama kali pada tahun 700 SM. Sejak itu, koin emas digunakan sebagai mata uang menggantikan peraturan barter. Harga emas sudah bisa menggantikan mata uang.

Lalu, di tahun 564 SM, Raja Croesus dari Lydia meningkatkan teknik pemurnian emas dan membangun mata uang emas internasional pertama.

Dilansir dari situs resmi World Gold Council, pada abad ke-18 tepatnya tahun 1854, Inggris dan beberapa koloninya yang menggunakan Gold Standart. Gold Standart adalah sistem dimana berbagai negara menetapkan nilai mata uangnya dalam jumlah emas tertentu. Harga emas mulai ditetapkan per ons dan disesuaikan nilainya dengan berbagai mata uang utama di dunia. Sementara, negara-negara lainnya hanya menggunakan perak untuk mata uang.

Pada abad ke-19, harga emas mulai ditetapkan dengan menggunakan sistem Gold Standart, tepatnya di tahun 1914 dimana pecahnya Perang Dunia Pertama. Ketika peperangan yang disebabkan Perang Napoleon mulai mereda, uang yang terdiri dari specie (koin emas, perak, atau tembaga) serta uang kertas mulai diterbitkan di bank.

Sejak itu, mata uang domestik dapat secara bebas dikonversikan menjadi emas dengan harga tetap dan tidak ada pembatasan ekspor dan impor emas. Koin emas juga diedarkan sebagai mata uang domestik bersama koin logam dan uang kertas lainnya dengan komposisi yang berbeda-beda di setiap negara.

Memasuki Perang Dunia Kedua, sistem mata uang Internasional dibentuk untuk menggantikan Gold Standart. Seperti apa bentuknya?

Melalui konferensi Bretton Woods di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1944, dolar ditetapkan untuk berada di pusat sistem keuangan. Hal itu didasari dengan dominasi politik dan ekonomi AS.

Setelah peperangan, dunia menginginkan stabilitas dengan nilai tukar yang tetap, ini dipandang penting untuk perdagangan. Akhirnya, Bretton Woods System disusun menjadi ketetapan nilai emas secara internasional yakni kala itu US$ 35 per ons. Sementara, mata uang lainnya menyesuaikan dengan nilai tukar terhadap dolar AS.

Selama era Bretton Woods System, ekonomi dunia tumbuh dengan cepat. Namun, memasuki tahun 1960-an ketegangan kembali muncul. Inflasi global yang melonjak menyebabkan harga emas anjlok. Defisit neraca perdagangan AS yang kronis, menyebabkan cadangan emas di Negeri Paman Sam tersebut habis. Hal ini juga disebabkan adanya penolakan yang cukup besar terhadap gagasan mendevaluasi dolar terhadap harga emas.

Pada tahun 1961, London Gold Pool terbentuk. Sebanyak 8 negara mengumpulkan cadangan emas mereka untuk mempertahankan harga emas di patokan US$ 35 per ons dan mencegah harga emas bergerak naik. Namun, upaya ini hanya bertahan sementara.

Pada tahun 1968, defisit neraca perdagangan AS kian meningkat. Dengan sentimen negatif terhadap dolar, akhirnya sejumlah bank sentral enggan menerima dolar, situasi pun menjadi tidak bisa dipertahankan. Akhirnya, pada Agustus 1971 Presiden Nixon mengumumkan bahwa AS mengakhiri konvertibilitas dolar menjadi emas untuk bank sentral negara-negara lain. Bretton Woods System pun runtuh dan harga emas diperdagangkan secara bebas di pasar dunia.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here