Beranda Hukum Sidang Kasus Dokter KDRT, Keterangan Saksi Beratkan Terdakwa

Sidang Kasus Dokter KDRT, Keterangan Saksi Beratkan Terdakwa

38
0
Sidang kasus dokter lakukan KDRT di PN. Sidoarjo

Sidoarjo, Jatim

Sidang kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dengan terdakwa dr. Hindayani Suci Utami, juga sebagai seorang dokter ASN (Aparatur Sipil Negara) di Puskesmas Kabupaten Pasuruan, digelar di Pengadilan Negeri Sidoarjo dengan agenda pembuktian yang menghadirkan saksi-saksi untuk dimintai keterangan, Rabu (27/10/2021).
   
Sebelumnya, pada pada hari Rabu (13/10/2021) majelis hakim menolak nota keberatan (eksepsi) yang diajukan terdakwa. Putusan hakim menyatakan sidang dilanjutkan 27 Oktober 2021 untuk pembuktian dengan menghadirkan saksi-saksi.
   
Sidang yang digelar di ruang utama PN Sidoarjo diketuai oleh ketua Majelis Hakim Eni. S dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Budhi Cahyono, menghadirkan dua orang saksi yakni drg. H. Anang Suhari selaku korban KDRT dan Hj. Niswatun Nadhifah selaku yang punya anak yatim dan pemilik rumah.
   
Di hadapan majelis hakim, keterangan kedua saksi memperberat terdakwa terkait KDRT yang diperbuat. Saksi drg. H. Anang Suhari menjelaskan bahwa secara tiba-tiba terdakwa langsung memukul tanpa tahu alasannya. “Istri saya langsung memukul dada saya sebelah kiri, dengan tangan kosong. Akibat pukulan tersebut dada mengalami memar dan terasa sakit (sesak). Hasil visum dokter luka memar antara 4 sampai 5 cm,” jelas Anang.
   
Anang menambahkan, jika dirinya dituduh selingkuh dengan Hj. Niswatun Nadhifah pemilik rumah dan pemilik anak yatim oleh terdakwa. Hal itu dibantah oleh korban dan diperkuat oleh saksi Hj. Niswatun Nadhifah.
   
Ketika saksi Niswatun ditanya majelis hakim, “Apakah saksi punya hubungan khusus dengan korban ?”. “Tidak ada yang mulia,” jawab Niswatun dihadapan majelis hakim.
   
Tambah Niswatun, bahwa kegiatan penyantunan anak yatim dilakukan korban adalah rutin setiap satu bulan sekali. “Penyantunan ini yang ketiga kalinya,” jelasnya.
   
Selaku korban, drg. H. Anang Suhari menyayangkan sikap majelis hakim yang membiarkan terdakwa masih bebas beraktifitas di Kabupaten Pasuruan. “Saya menyayangkan sikap majelis hakim yang terkesan membiarkan terdakwa. Ini sangat bertentangan dengan pasal 22 ayat 2 dan 5 KUHP, terdakwa berstatus tahanan Kota Sidoarjo,” pungkas drg. H. Anang. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here