Beranda Daerah Tipikal Nofi Candra-Yulfadri Kian Melekat Di Hati Masyarakat Solok

Tipikal Nofi Candra-Yulfadri Kian Melekat Di Hati Masyarakat Solok

711
0

Solok, Sumbar

Pergerakan politik Nofi Candra-Yulfadri semakin mendapat tempat di hati masyarakat se Kabupaten Solok. Walau aksi politik nakal tetap menggelinding tanpa rasa, mencari-cari celah, cela yang mereka ramalkan bakal menghancurkan nama besar pasangan calon bupati-wakil bupati Solok nomor urut 1, namun sikap sabar dan tetap berpikir positif yang menjadi perisai diri Nofi Candra-Yulfadri Nurdin, menjadikan Pasangan yang diusung partai Nasdem dan PPP ini semakin lekat dihati masyarakat Kabupaten Solok.

Sikap sabar namun teguh yang dimiliki Nofi Candra-Yulfadri, ternyata menjadi magnet untuk menarik simpati warga.
Terutama kaum ibu-ibu, cenderung menyukai tipikal pimpinan yang sejuk, lembut, santun dan bersahaja. Karakter demikian, adalah keseharian pasangan yang maju untuk mengembangkan Sektor Pertanian, Pariwisata dan infrastruktur dalam meningkatkan perekonomian Kabupaten Solok kedepan.

Spontanitas dukungan masyarakat semakin mengkristal, ketika Jumat (30/10/2020), kerumunan emak-emak dengan histeris berteriak menyatakan dukungan dan bergabung untuk memenangkan pasangan Nofi Candra-Yulfadri di Nagari Bukit Tandang, Kabupaten Solok.

“Kita harus bersama pak Nofi Candra dan pak Yul, kita wajib memenangkan beliau. Hidup Solok Baru”, teriak ibu-ibu tersebut.

Sambutan demikian membuktikan ketidak percayaan masyarakat terhadap tudingan yang mengatakan Nofi Candra-Yulfadri sebagai kandidat karah-karah dan bangkrut. Padahal sejatinya, tipikal pimpinan seperti pak Nofi dan pak Yul inilah yang ditunggu-tunggu masyarakat Kabupaten Solok.
Disisi lain, masyarakat justru sangat prihatin dengan sikap salah seorang calon bupati yang dijuluki “Bos”oleh pendukungnya, yang bertindak diluar naluri kemanusiaan dengan menyegel rumah Wabup Yulfadri Nurdin.

“Kita wajib memenangkan NC-Yul dan melawan kesombongan. Politik hitam (Black campaign) itu tidak perlu ditanggapi. Kita lawan arogansi dan sikap-sikap otoriter dengan kebersamaan dan keteguhan hati untuk menjadikan Nofi-Yulfadri sebagai pemimpin di Kabupaten Solok”, tutur emak-emak yang sudah mulai muak dengan sikap arogan calon pemimpin yang kerap menyerang rival politiknya.

Semua yang menyaksikan kenyataan itu, haru terbawa perasaan sedih meneteskan air mata. Hingga melahirkan histeria politik, “Hidup Nofi Candra,!! Hidup Yulfadri… Hidup Generasi muda sang calon pemimpin masa depan. Kami bersamamu. Hidup pasangan Nomor Urut 1. Insya Allah Menang”, teriak mereka membahana.

Menyambut dukungan riil dan ikhlas itu, Nofi Candra-Yulfadri tetap meminta masyarakat Solok bersatu dan selalu ‘sabar’ menghadapi berbagai hantaman politik hitam yang menyerang hampir setiap saat itu. “Jangan ikuti cara mereka, biarlah setiap ucapan yang menyakitkan, kita hadapi dengan sabar untuk tidak membalasnya”, pesannya.

“Jika kita telah berlaku baik pada posisi yang benar, maka Allah pasti akan membimbing kita dan orang yang memusuhi kita itu akan jatuh dan akan menelan kata-katanya sendiri. Karena akan ada hukum alam bagi mereka yang keluar dari rasa kemanusiaan, (bagi yang menabur angin pasti akan menuai badai)”, imbuh H. Nofi Candra, generasi muda milenial pemilik PT. Citra Nusantara Mandiri (CNM) dan pengusaha NC Plaza yang juga mantan DPD RI itu penuh makna.

Salah seorang tokoh masyarakat Kabupaten Solok, Gusrial Abbas, S. Ag, MM, Kamis (29/10/2020) mengatakan, setidaknya ada beberapa kriteria yang seharusnya dimiliki oleh calon yang akan memimpin Kabupaten Solok untuk lima tahun mendatang.

Mantan anggota DPRD selama 3 periode berturut-turut itu mengurai, yang terpenting seorang calon pemimpin kabupaten Solok itu hendaknya memiliki pribadi yang santun penuh tata krama suri tauladan bagi generasi penerus daerah ini, tidak suka marah-marah, apa lagi bertindak garang menyerang membabi buta cari lawan dengan cara-cara tak terpuji.

“Mudah-mudahan tak ada calon bupati Solok yang punya tabiat tak terpuji seperti ini. Sesungguhnya Allah SWT menjadikan imam atau pemimpin yang adil itu untuk meluruskan yang bengkok, membimbing yang zalim, memperbaiki yang rusak, membela yang lemah, dan pelindung yang teraniaya. Jadi bagaimana ia akan terpilih bila tidak mempunyai sifat-sifat terpuji seperti ini”, kata Gusrial yang juga mantan Ketua DPD PAN Kab. Solok 2010-2015.

Gusrial Abbas menambahkan, hubungan seseorang yang akan menjadi pemimpin dengan orang yang akan dipimpinnya harus terjalin dengan baik, agar terciptanya rasa aman dan damai di kabupaten Solok. “Bagaimana ia akan menjadi pemimpin, bila di awal-awal dia sudah merusak hubungan dengan sikap-sikapnya yang kurang terpuji”, kata Gusrial Abbas, Katik Marajo penuh makna.

Menurut mantan Wakil Ketua DPRD ini, seorang pemimpin yang baik bukan hanya memerintah orang lain untuk melakukan suatu pekerjaan, atau lebih banyak marah-marah. Tetapi pemimpin yang baik harus bisa terjun langsung ke lapangan untuk memberikan contoh yang konkret kepada rakyatnya.

“Menjadi seorang pemimpin harus benar-benar berbaur dengan masyarakat, pemimpin harus mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah masyarakat dan bukan harus mendengarkan kata-katanya”, terang Gusrial Abbas dengan seulas senyum khasnya.

Ditambahkanya, pemimpin yang baik akan berkomunikasi dan mempertimbangkan apa yang jadi keinginan masyarakatnya, dan bukan malah apa yang menjadi keinginannya.

Untuk itu, selaku tokoh ninik mamak sekaligus pemerhati daerah, Gusrial berharap agar masyarakat memilih pemimpin yang dapat menjadi pemimpin pemberi arah yang mengayomi, melayani, bukan pemimpin untuk dilayani.

“Kita butuh pemimpin yang memiliki visi dan misi yang berpihak kepada peningkatan ekonomi kerakyatan dan responsif. Seorang pemimpin yang bisa selalu tanggap dalam setiap persoalan kebutuhan yang menjadi harapan rakyatnya. Pemimpin yang beriman, berkepribadian baik (integritas), dan memiliki keahlian memimpin atau skill of leadership”, himbau Gusrial Abbas, S.Ag, MM, Katik Marajo besemangat.

Oleh karena itu, tambah dia, masyarakat tentunya haruslah dinamis dan selektif dalam menentukan ke cenderungannya memilih pemimpin melalui analisa dan bedah calon, mana sosoknya yang mungkin bisa dipercaya menerima amanah untuk daerahnya lebih baik.

“Memilih pemimpin itu adalah memilih kepribadian calon dan track recordnya. Jika ada satu saja cacat moralnya, tentu tidak dipilih, apalagi jika calon tersebut angkuh dan sombong. Karena pemimpin di Minangkabau itu adalah yang tumbuh dari akar budaya. Tau ereang jo gendeang. Bukannya sakalamak paruiknyo sajo”, ajak Katik Marajo penuh harap. (Am Charlen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here